Showing posts with label Somalia. Show all posts
Showing posts with label Somalia. Show all posts

Thursday, April 14, 2011

Pangllima TNI: Kami Siap Berangkat ke Somalia


REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI-- Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menegaskan bahwa pihaknya siap diberangkatkan ke Somalia untuk menyelematkan 20 WNI ABK "Sinar Kudus" yang dibajak perompak di wilayah itu, jika negosiasi alami jalan buntu.

"TNI siap. Tetapi pemerintah saat ini lebih mengedepankan negosiasi. Manakala negosiasi itu gagal, TNI siap berangkat," katanya, usai peresmian prasasti "Seroja" di Kompleks Perumahan Seroja, Bekasi Utara, Jabar, Kamis.

Agus menegaskan, ada beberapa opsi untuk melakukan pembebasan 20 WNI ABK "Sinar Kudus" yang sudah disandera selama hampir sebulan di Somalia. Di antara beberapa opsi itu Pemerintah memutuskan untuk mengedepankan negosiasi.

"Jadi, sementara masih diupayakan negosiasi. Jika, gagal kami siap untuk berangkat," kata Panglima TNI, menegaskan.
Agus menegaskan, negosiasi diutamakan karena opsi tersebut adalah terbaik untuk menjamin keamanan para ABK tersebut.

"Penggunaan militer oleh Malaysia atau Korea Selatan karena kapal mereka masih berada di laut, saat dibajak. Sedangkan MV 'Sinar Kudus' berada di daratan, sehingga negosiasi adalah upaya penyelamatan yang paling aman bagi keselamatan para ABK itu," paparnya.

Panglima TNI menambahkan, pemerintah kini juga tengah dirancang mekanisme penyerahan uang tebusan yang diminta perompak. Sebelumnya, perompak meminta tebusan sebesar 2,6 juta dolar AS, lalu sempat bertambah menjadi 3,5 juta dollar AS.

Kini, pembajak yang menyandera kapal pengangkut nikel dari Pomala, Sulawesi, tujuan Rotterdam, Belanda, sejak 16 Maret lalu, menurunkan nilai tebusan menjadi 3 juta dolar AS atau setara Rp26 miliar. Sejak Maret-April ini, terdapat 41 kapal yang dibajak. Tak kurang 583 orang, termasuk 20 WNI, disandera.

Tuesday, April 12, 2011

(Saran Dubes Somalia) Perompak Somalia Harus Dihadapi dengan Militer

Perompak Somalia Harus Dihadapi dengan Militer
Gaya Tengil Rampok Somalia



11/04/2011 11:04
Liputan6.com, Jakarta: Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mengirim TNI untuk membebaskan awak buah kapal Sinar Kudus yang disandera perompak di Somalia. "Pemerintah harus tegas. Kirim kekuatan militer. Kalau tidak, negosiasi akan bertele-tele dan sangat mahal," kata Hasyim, Senin (11/4).

Menurut Hasyim, Duta Besar Somalia untuk Indonesia Muhammad Alu pun menyarankan Indonesia menggunakan kekuatan militer untuk membebaskan ABK Sinar Kudus. "Dubes Somalia menyarankan TNI AL segera menyerang perompak agar negosiasi lebih gampang," kata Hasyim. Ia menambahkan perompak Somalia sudah merupakan sindikat internasional.

"Jadi Somalia hanya jadi tempat parkir sindikat preman internasional. Pemerintah Somalia tak dapat mengontrol," katanya. Karena itu, lanjutnya, Pemerintah Somalia tidak keberatan jika militer Indonesia turun tangan langsung menghadapi perompak di perairan mereka. Ia mengatakan selama ini kapal-kapal dagang berbagai negara selalu dikawal kapal perang negara.

Seperti diberitakan, perompak Somalia pada 16 Maret lalu membajak kapal Sinar Kudus yang bermuatan nikel dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara menuju Rotterdam, Belanda di perairan Arab. Para perompak awalnya minta tebusan US$ 2,6 juta namun bertambah jadi US$ 3,5 juta. PT Samudera Indonesia, pemilik Sinar Kudus, dikabarkan telah menawar US$ 1,5 juta.(ANT/JUM)

Perompak Somalia: Hidup Kaya Raya, Mobil Mewah, Rumah Luas, Istri Cantik (Bagian 2)

Perompak Somalia bersenjatakan roket menunggui kapal MV Faina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Siapa sangka kalau perompak Somalia hidupnya susah? Duit hasil rampokan mereka bagi-bagi ke keluarga, ke klan, ke kawan perompak, dan sisanya dibelikan senjata dan kapal baru.

Dengan uang tebusan per kapal mencapai jutaan dolar AS, maka bukan hil yang mustahal kalau para perompak itu hidupnya bergeliman dolar AS. Mereka dikelilingi gadis-gadis cantik, rumahnya besar dan berhektar-hektar, mobilnya gres dari Eropa dan Jepang, dan tentunya teknologi senjata terbaru.

"Nggak ada informasi hari ini. No comment," bentak seorang perompak Somalia lewat saluran telepon satelit, seperti didengar wartawan BBC. Ia lalu mengakhiri percakapan dengan sebuah bantingan telepon.

Nada suaranya gugup. Kemungkinan dia gugup menunggu apakah tebusan jutaan dolar AS akan mengalir ke kantong mereka. Perompak Somalia itu baru saja membajak sebuah kapal Ukrania, MV Faina. Yang heboh adalah isi dari kapal ini: 33 tank tempur Rusia.

Gara-gara muatan berbahaya ini, para perompak menjadi sedikit khawatir. Tapi mereka tetap menunggu tebusannya. Siapa sih sebenarnya para perompak ini? Menurut warga di Puntland, wilayah yang menjadi kampung perompak, para perompak punya gaya hidup tinggi.

"Mereka punya duit, mereka punya kekuasaan, dan mereka makin kuat setiap hari," kata Abdi Farah Juha, warga Garowe, di dekat Puntland.

"Para perompak itu punya bini yang cantik-cantik. Mereka punya rumah mewah. Mobil baru dan senjata baru," sambung Juha. "Di sini, di Somalia, menjadi perompak adalah suatu kelas masyrakat yang tinggi dan fashionable," katanya lagi.

Rata-rata umur perompak adalah 20-35 tahun. Mereka menjadi perompak semata-mata karena uang. Dan mereka mendapatkannya. Ini membuat kampung perompak di Puntland menjadi wilayah yang makmur. 180 derajat berbeda dengan wilayah Somalia lainnya yang cari makan saja harus meminta bantuan lembaga dan negara lain.

Rata-rata pemilik kapal yang dirompak di Teluk Aden harus merogoh kocek sedalam dua juta dolar AS. Imbalannya, bila dibayar, maka muatan kapal dan kru kapal dijaga hidup-hidup. Wartawan BBC yang masuk ke kampung perompak di Puntland mengatakan, uniknya para perompak ini kompak antara kelompok satu dan lainnya.

Mereka bisa kompak karena ada duit di antara mereka. Warga Puntland yang menjadi perompak dan terluka tembak kerap nongol di jalan-jalan daerah itu. Di pantainya tidak pernah ada mayat siapapun, warga lokal atau warga asing.

Melihat sejarah Somalia yang kerap perang saudara dan perang suku, 'kekompakan' perompak di Puntland ini sangat unik. Itu menjelaskan mengapa adanya laporan bahwa perompak menembak mati sandera di MV Faina sangat dibantah oleh mereka.

Juru bicara perompak, Sugule Ali, menegaskan pada BBC di Somalia, bahwa seluruh sandera sehat. "Semua senang. Kita menembakkan senjata menyambut Hari Raya kok," katanya dengan tenang.

Tiga Kelompok
Pengamat Somalia Mohamed Mohamed mengatakan ada tiga kelompok besar yang menjadi cikal bakal perompak. Kelompok pertama adalah mantan nelayan. Mereka adalah tulang punggung operasi perompak karena sangat mengenal Teluk Aden.

Kelompok kedua adalah mantan milisi dari perang saudara Somalia. Mereka menjadi eksekutor perompak. Kelompok terakhir adalah para ahli IT. Mereka yang mengoperasikan peralatan canggih untuk merompak kapal di tengah laut termasuk berkomunikasi lewat telepon satelit dan ahli senjata.

Lembaga riset Inggris, Chatham House, melaporkan aksi perompakan dalam setahun bisa mencapai 30 juta dolar AS. Perompak juga makin agresif dan makin jual mahal menentukan tebusan. Kapal MV Faina kalau mau dilepas harus membayar 22 juta dolar AS! Meski belakangan turun drastis jadi 8 juta dolar AS.

Para perompak ini mendapat senjata dari Yaman dan Mogadishu (ibu kota Somalia). Para pengamat menyatakan, pedagang senjata di Mogadishu menerima order senjata dari perompak lewat perusahaan transfer duit lokal. Setelah instruksi diterima, transaksi dengan senjata berjalan dan senjata dikirim lewat jalur darat ke Puntland. Mereka membayar tunai di tempat.

Yang mungkin agak sukar dipercaya adalah dengan berlimpah uang, kini para perompak ada yang menjadi 'bank'. Para pebisnis Somalia tak jarang meminjam kredit ke perompak. Ini menjadi ladang baru bagi warga Puntland yang enggan jadi perompak. Menjadi pialang kredit perompak.

Saat beroperasi, untuk menjaga stamina, para perompak ini kerap menggunakan narkoba dan mengunyah khat (doping lokal). Mereka juga merokok hashih dan minum alkohol.

Para nelayan pun berbondong-bondong menjadi perompak karena jalan pintas menjadi kaya. Apalagi ikan hasil tangkapan tradisional mereka kalah bersaing dengan kapal-kapal pukat internasional yang beroperasi ilegal di Somalia.

Awalnya, perompak bermula di selatan Somalia. Baru beranjak ke utara sejak 2007. Abdulkadil Mohamed, warga Garowe, mengatakan realitas yang dihadapi warga pesisir Somalia. "Mereka tidak menganggap dirinya perompak. Mereka menganggap dirinya penjaga pantai (coastguard). Adalah ilegal fishing di sini yang merubah mereka jadi perompak," katanya.

Ini Cara Prancis Hadapi Perompak Somalia: Negosiasi dan Kirim Pasukan Komando

Pasukan Komando Prancis beraksi saat membebaskan sandera WN Prancis dan menangkap para perompak Somalia


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah mengutamakan jalur negosiasi dengan perompak Somalia untuk membebaskan 20 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Kapal MV Sinar Kudus. Apalagi, pemilik kapal, PT Samudera Indonesia Tbk, bersedia membayar tebusan.

Namun banyak pihak yang menyarankan agar pemerintah mengirim pasukan khusus untuk menyerang perompak Somalia. Dalam hal ini, pemerintah bisa belajar dari Prancis maupun Korsel yang mengirimkan pasukan komandonya ke Teluk Aden untuk membebaskan sandera warga negara mereka.

Seperti dikutip dari Newsweek (2009), pengarang buku mengenai perompak 'Dangerous Waters', John S Burnett, kini para perompak Somalia enggan lagi membajak kapal berbendera Prancis maupun Amerika Serikat.

Dalam periode 2008-2009, perompak Somalia membajak tiga kapal pesiar milik warga Prancis. Pemerintah Prancis awalnya mau bernegosiasi, bahkan dalam kasus pertama mereka membayar uang tebusan agar kapal dan krunya dibebaskan. Namun lama-lama pemerintah Prancis gemas juga, hingga akhirnya mereka ambil jalan keras, menyerang para perompak.

Kini di Puntland, kampung perompak di timur Somalia, ada istilah 'Opsi Prancis'. Para perompak, menurut Burnett, sangat menghindari opsi ini karena mereka tahu risikonya. "Mereka tahu pasukan komando Prancis bakal mengejar mereka. Dan mereka tahu kalau pasukan komando Prancis yang mengejar mereka tidak akan selamat," kata Burnett.

Pascakejadian tiga kapal Prancis itu, kini perompak Somalia menghindari merompak kapal berbendera Prancis. Menurut Burnett, Prancis mengirimkan pesan kuat pada para perompak: Jangan berani-berani merompak warga Prancis! Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, juga memainkan sentimen nasionalisme dalam menghadapi tekanan perompak Somalia.

Menurut Burnett ada sejumlah strategi dasar dalam menghadapi tuntutan para perompak Somalia. Pertama, tetaplah bernegosiasi dengan para perompak. Biarkan para perompak berbicara apa saja terkait uang tebusan maupun sandera.

Kedua, sangat penting untuk tidak membiarkan perompak membawa kapal ke daratan. Bila ini terjadi, maka negosiasi akan cukup rumit. Karena sandera sudah disembunyikan di kota, tidak lagi di kapal. Garis pantai adalah titik paling krusial yang harus dihindari bila ingin membebaskan sandera dan menyerang perompak.

Komandan Guillaume Goutay yang memegang kendali kapal perang Prancis L'Aconit yang menyerang perompak Somalia dua tahun lalu menegaskan perompak juga akan mengulur waktu. Mereka butuh waktu membawa kapal ke pelabuhan, semisal pelabuhan Eyl, di Puntland.

Dalam contoh kasusnya, Goutay membebaskan kapal Tanit yang dibajak 70 mil laut dari daratan. Kapal Prancis bisa mendekat ke Tanit. Mereka bisa melihat pemilik kapal Florent Lemacon, istrinya, dan anaknya yang balita. Ada dua rekan Lemacon. Dan ada lima perompak Somalia bersenjata lengkap.

"Ingat! Kita sedang berhadapan dengan orang yang tidak mau mendengar," kata Goutay. Negosiasi terus berlangsung. Tapi Tanit terus mendekat ke pelabuhan. Ketika jaraknya tinggal 20 mil laut, Goutay memerintahkan armadanya menyerang sejenak kapal Tanit. Serangan ini merobohkan layar kapal. Sekaligus membuat panik para perompak. Mereka mengancam akan membunuh seluruh penumpang.

Goutay tetap tenang. Prancis kembali bernegosiasi dengan perompak. Namun mempertimbangkan jarang ke pelabuhan yang makin dekat, akhirnya Presiden Sarkozy memerintahkan pasukan komandonya bergerak cepat. Pasukan elit itu menyerang saat subuh dengan sigap. Sejumlah penembak jitu melumpuhkan tiga perompak yang berjaga-jaga. Penumpang lainnya selamat. Tapi dua perompak menyandera Lemacon dalam sebuah kabin. Lemacon tewas tertembak, kemungkinan oleh pasukan Komando Prancis.