Showing posts with label Rasa. Show all posts
Showing posts with label Rasa. Show all posts

Saturday, August 6, 2011

Nikmatnya Tomat Rasa Kurma

Nikmatnya Tomat Rasa Kurma

Sumber: Tribun News

Tomat rasa kurma atau biasa dikenal dengan nama Torakor menjadi camilan favorit warga Brebes, Jawa Tengah, saat bulan Ramadan. Rasanya yang manis dan legit cocok sebagai makanan berbuka.
.
Menurut perajin torakor, Asep Sopari (50), warga Dukuh Wringin, Wanasari, Brebes, penjualan panganan berbahan dasar buah tomat tersebut semakin meningkat saat Ramadan, bahkan hingga usai Lebaran, Torakor semakin laris diburu pembeli.

"Jika hari biasa kami memproduksi Torakor antara 20-30 kilogram tomat, sementara pada bulan Ramadan kami mengolah sekitar satu kuintal tomat menjadi torakor," jelasnya.

Ia mengatakan ide pembuatan Torakor muncul akibat melimpahnya buah tomat di wilayah tersebut. Jika sedang panen raya harganya hanya Rp 500 per kilogram, sehingga muncul ide untuk mengolah buah kaya vitamin tersebut menjadi panganan yang mempunyai nilai jual tinggi.

Selain bahan bakunya mudah didapat, proses pembuatan Torakor juga tidak sulit. Buah tomat segar yang telah dicuci bersih lalu ditusuk-tusuk menggunakan garpu, setelah tusukan merata, buah tomat selanjutnya direndam dengan air kapur sirih selama dua jam.

"Buah tomat tersebut selanjutnya dibuang bijinya, kemudian rebus selama dua jam bersama gula pasir dengan perbandingan lima kilogram tomat campur dengan satu kilogram gula pasir. Setelah matang angkat lalu tiriskan selama satu malam. Kemudian paginya dijemur di bawah sinar matahari selama dua sampai tiga hari hingga kadar air berkurang, " urai Asep.

Setelah proses penjemuran, Torakor dapat langsung dibentuk seperti buah kurma kemudian dikemas dalam plastik. Selain rasanya seperti kurma tanpa biji, bentuknya juga menyerupai buah kurma sehingga tidak sedikit pembeli yang mengira Torakor adalah buah kurma.

"Jika harga tomat sedang anjlok, satu kilogram Torakor dijual Rp 10 ribu. Sedangkan bila harga tomat naik seperti saat ini yang mencapai Rp 4 ribu per kilogram, maka harga Torakor juga ikut naik menjadi Rp15 ribu per kilogram," imbuhnya.

Menurut perajin yang menggeluti usaha pembuatan Torakor sejak 2006 tersebut, hingga kini pemasaran Torakor masih di wilayah Brebes dan sekitarnya, seperti di swalayan dan toko-toko pusat jajanan di sepanjang jalur Pantura Brebes.

Wednesday, April 20, 2011

Mengumpat Bisa Mengurangi Rasa Sakit

VIVAnews - Sumpah serapah yang selama ini dianggap tabu, bisa jadi dianjurkan dalam dunia medis. Itu karena penelitian menemukan kalau umpatan memiliki efek obat penghilang rasa sakit yang kuat, terutama bagi orang yang jarang melakukannya.Tim peneliti dari Keele University, Inggris, menguji teori ini pada mahasiswa yang tangannya dicelupkan pada air dingin. Saat memegangnya, mereka mengumpat dengan kata-kata kasar berulang kali. Mereka kemudian diminta melakukan hal itu lagi, tetapi menggunakan frase yang lebih sopan sebagai gantinya. Para peneliti menemukan bahwa mahasiswa mampu menahan tangan dalam air es untuk lebih lama saat melakukan umpatan berulang-ulang.

Hal ini menunjukan adanya hubungan antara umpatan dengan peningkatan toleransi rasa sakit. Mereka juga menemukan bahwa efek tersebut empat kali lebih mungkin bekerja pada mahasiswa yang jarang melakukan umpatan. Tim percaya efek tersebut terjadi karena memicu respons "pertarungan atau pelarian".Denyut jantung cepat mahasiswa yang mengulang umpatan menunjukkan peningkatan agresi. Dalam respons pertarungan klasik atau pelarian, bisa mengecilkan kelemahan dan mendukung toleransi rasa sakit menjadi lebih baik.Hasil penelitian membuktikan bahwa mengumpat tidak hanya memicu respons emosional, tetapi juga fisik. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa terdapat sejarah kutukan berusia berabad-abad bahkan masih berlanjut hingga hari ini."Menyumpah, mengumpat atau apapun itu telah dilakukan selama berabad-abad dan bersifat universal dalam fenomena linguistik manusia," kata Dr. Richard Stephens, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Telegraph.Menurutnya mengutuk atau mengumpat membangkitkan pusat respons emosi pada otak, yang terdapat di otak bagian kanan. Sedangkan, sebagian besar produksi bahasa terjadi di otak bagian otak kiri.''Penelitian kami menunjukkan alasan potensial mengapa sumpah serapah atau kutukan terus terjadi dan masih ada hingga hari ini," kata Dr. Richard.