JAKARTA, (PRLM).- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memastikan pasokan dana di anjungan tunai mandiri (ATM) BRI aman sebelum hingga selesai Lebaran 2011, yakni dengan mengedrop uang tunai ke semua ATM BRI sebesar Rp 9,51 triliun atau meningkat sebesar 18,90% dari kebutuhan tahun lalu.
”ATM akan kami persiapkan secara maksimal, karena penggunaan e-channel tertinggi selama hari raya adalah ATM. Jumlah ATM BRI secara nasional adalah sebanyak 6.794 ATM," kata Sekretaris Perusahaan Bank BRI Muhammad Ali di Jakarta, Rabu (24/8).
Menurut dia, kenaikan penggunaan ATM terjadi di awal Ramadhan, yang meningkat 11,76% menjadi 1.539.571 transaksi perhari. Sementara nominal transaksi ATM hingga mencapai Rp.770 milyar perhari dengan kenaikan dari awal Ramadhan sebsar 10,82%.
”Pokoknya nasabah kita servis habis di ATM. Duitnya cukup sampai ke pelosok nusantara. Pasokan duit lewat ATM tak hanya difokuskan ke kota-kota besar, melainkan sampai ke daerah-daerah dan pelosok desa. Tingkat availibility ATM BRI mencapai 98%, dengan adanya petugas ATM dan petugas monitoring ATM diharapkan dapat mensiagakan 100% ATM BRI di seluruh Indonesia," katanya.
Meski demikian, pihaknya juga meminta nasabah Bank BRI agar waspada terhadap meningkatnya aksi kriminalitas menjelang hari raya. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar nasabah berhati-hati saat mengambil dana tunai baik saat bulan puasa dan Idul Fitri.
”Mengambil uang seperlunya sesuai kebutuhan, mengingat saat ini BRI telah menyediakan ATM dalam jumlah banyak dan tersebar di seluruh Indonesia,” imbau Ali. Kedua, lanjut Ali, pihaknya meminta nasabah menjaga kerahasiaan PIN serta selalu merubah PIN secara berkala.”Bila terjadi permasalahan segera hubungi call center BRI di 14017,” tambah dia.
Showing posts with label Triliun. Show all posts
Showing posts with label Triliun. Show all posts
Wednesday, August 24, 2011
Saturday, August 6, 2011
Utang Indonesia Sudah Rp 1.900 Triliun
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- LSM Koalisi Anti Utang (KAU) mendesak agar pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri.
"Semakin besar kita mengandalkan utang maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional," kata Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan di Jakarta, Jumat. Menurut dia, isu utang seharusnya saat ini menjadi "debat panas" di dalam DPR karena banyak hal yang harus diperhatikan terkait hal itu.
Ia mencontohkan, hal penting yang harus dicermati terkait dengan utang adalah sejauh mana jumlah cicilan pokok dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar utang tersebut. Dani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan hangat baik di dalam tubuh pemerintah AS maupun kongres negara itu.
"Di AS terlihat isu utang menjadi krusial tetapi di Indonesia isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas," katanya. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah juga menilai, total utang luar negeri Indonesia baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati.
"Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati," kata Didi di Jakarta akhir Juni lalu.
Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai kwartal I 2011 mencapai 214,5 miliar dolar AS, meningkat 10 miliar dolar AS dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang Pemerintah sebesar 128,6 miliar dolar AS dan utang swasta 85,9 miliar dolar AS.
Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini 28,2 persen lebih baik dibanding 1997/1998 sebesar 151,2 persen. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini 42,6 persen lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7 persen.
Subscribe to:
Posts (Atom)