Showing posts with label Sambas. Show all posts
Showing posts with label Sambas. Show all posts
Friday, May 6, 2011
Wisata Alam Pantai Tanjung Batu di Kabupaten Sambas
Berwisata merupakan langkah cukup efektif untuk menghilangkan segala kepenatan setelah lama beraktifitas.Salah satu wisata yang bisa anda kunjungi adalah berwisata ke pantai.Nah,berikut ini kita mencoba tempat wisata baru yang mungkin belum pernah kita tahu sebelumnya yaitu wisata Pantai Tanjung Batu.Pantai Tanjung Batu merupakan pantai berbentuk tanjung bentukan alam yang terdiri dari bukit yang berbatu menjorok ke laut dengan ketinggian kurang lebih 80 meter.pantai tanjung Batu terletak sekitar 47 km dari pusat Ibukota Kabupaten Sambas.
Di kaki bukit ini banyak terdapat batu – batu yang menghampar ke laut yang dapat di lihat apabila air laut dalam keadaan surut. Obyek wisata alam Pantai Tanjung Batu dilengkapi dengan gunung yang berfungsi sebagai benteng alam, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam dari atas gunung keberbagai arah pandangan; menikmati pemandangan kota pemangkat, Gunung Gajah, Laut Cina Selatan, dan pemandangan indah lainnya. Menikmati perjalanan wisata berkeliling Gunung Tanjung Batu dengan berjalan menyusuri jalan setapak melingkari gunung. Selain panorama alam yang indah, obyek wisata ini juga relatif dekat dengan pusat perbelanjaan Kota Pemangkat. -Tugu kekejaman fasisme Jepang dengan jumlah korban sebanyak 47 orang.
Korban di kak Gunung Tanjung Batu Meriam Tembak peninggalan jaman Belanda terletak di kaki Gunung Tanjung Batu sebanyak 2 buah. Meriam ini berusia lebih dari satu setenggah abad (tahun 1850). Makam Jendral Belanda Van Den Boch bertuliskan !0/10 th. 1850. Berupa tugu di puncak Gunung Tanjung Batu. Di atas puncak Gunung Tanjung Batu, juga terdapat makam para tentara Belanda: “ OBOS”. Merupakan tugu yang pada awalnya di tahun 1974 masih kelihatan dikelilingi oleh belasan makam prajurit Belanda yang gugur semasa menjalankan tugas, terbukti dengan ditandainya setiap kepala nisan yang berbentuk salib yang diletakkan topi baja prajurit tersebut. Karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan tidak terpelihara sampai tahun 2008 ini hanya dapat dilihat sebuah tugu monumen berbentuk bujur sangkar dengan puncak atas berbentuk limas bertuliskan 1850 dan badan tugu empat persegi bertuliskan F. Jsorg, Luit Kol Inf. 1850 dan V.Winsheim. Legenda “Batu Ballah”. Salah satu legenda rakyat telah menjadi salah satu aset nasional kita. Wisata Indonesia Surga Dunia.
Menilik Keindahan Tenun Songket Sambas
SAMBAS, 15/3 - SONGKET SAMBAS. Seorang pengrajin, Sahidah (64), menunjukkan kain tenun songket karyanya yang merupakan produk kerajinan unggulan Kabupaten Sambas yang dijual seharga Rp 150 ribu hingga Rp 5 juta di Jl Pendidikan, Sambas, Kalbar, Sabtu (14/3). Saat ini pengrajin tenun songket mengalami kesulitan dalam hal sumber daya manusia (SDM) yang bisa membuat tenunan berkualitas tinggi, dengan tidak meninggalkan corak khas Sambas. FOTO ANTARA/Eric Ireng/Koz/nz/09.
KEINDAHAN kain tenun songket Sambas sungguh menawan. Motifnya yang unik sanggup memesona para penikmatnya. Seiring dengan kemajuan zaman, penggemarnya di negeri jiran mulai berkurang. Memasuki tahun 90-an, penjualan songket mulai mengalami penurunan yang sangat signifikan. Ini semua merupakan imbas dari banyaknya para penenun yang hijrah ke Brunai Darussalam. Mereka diberi berbagai kemudahan dalam mengembangkan motif kain tenun.
Meski jumlah perajin kain songket yang bekerja di luar negeri cukup banyak, bukan berarti kerajinannya punah. Dengan modal seadanya, mereka mencoba untuk bertahan demi menjaga kelestarian warisan budaya negeri sendiri. Mereka memiliki prinsip berkarya di negeri sendiri tidak kalah menguntungkan dibanding di luar negeri.
Salah satu perajin songket hingga kini yang eksis adalah Alfian. Pria kelahiran Sambas, 7 Oktober 1977 ini aktif mengelola serta mempromosikan tenun sambas sejak 1997. Dia tertarik mengembangkan kain tenun sambas karena merasa sangat prihatin dengan perkembangan kain tenun sambas. “Saya merasa sedih saat mendengar ada upaya-upaya pihak luar yang ingin mengklaim kain tenun sambas sebagai produk mereka,” ungkapnya.
Ini terlihat dari bertambahnya jumlah perajin di Sambas. “Beragam motif tradisional yang sekarang mulai langka kembali di tampilkan, seperti Tepuk Pedada, Siku Keluang, Mata Punai, Awa Larat, Pucuk Rebung, Bunga Pecah, Bunag Melur, Biji Periak, Angin Putar, Ragam banji, Bunga Cengkeh, Bunga Cempaka dan lain sebagainya,” paparnya. Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, kain songket juga ditawarkan dalam ragam bentuk yang lebih berkelas, seperti peci, syal, dasi, sajadah, hiasan dinding, bahan baju dan celana, dan lain sebagainya. Berkat inovasi yang terus di kembangkan, kerajinan tenun sambas kini banyak diminati oleh masyarakat Kalbar serta luar negeri. Mereka gelar karena kain tenun songket sambas di buat dengan menggunakan alat tradisional.
Proses menenun dilakukan dengan cara menyatukan benang pakan dengan benang lusin dan menggunakan alat yang disebut gigi suri yang berbentuk seperti sisir dan terbuat dari kulit enau atau kulit bemban. Proses menyongket dilakukan dengan cara memindahkan atau menyalin motif kain dari pola atau sujibillang ke benang lusin dengan menggunakan alat songketan yang terbuat dari bulu binatang landak, dan setiap kain yang dibuat melalui proses menyongket pasti menggunakan benang emas atau perak pada motif kainnya. Kain tenun songket sambas kerap digunakan dalam acara adat masyarakat Melayu, salah satunya adalah perkawinan. Di acara sakral tersebut, kain tenun songket sambas berfungsi sebagai barang antaran atau seserahan dari pihak mempelai lelaki kepada mempelai perempuan, dan kain cual dijadikan balasan barang antaran atau seserahan dari mempelai wanita ke pihak mempelai laki-laki yang disebut balas baki. (*)
Subscribe to:
Posts (Atom)