Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Tuesday, April 12, 2011

Ketika Autobots Bertasbih

Hari ini adalah hari kepulangan Azzam ke Indonesia setelah 9 tahun lamanya di Mesir. Pesawat telah take-off 5 menit yang lalu. Di sebelahnya duduk Eliana, putri dubes Indonesia untuk Mesir yang sedang tertidur lelap. Mulutnya mangap dengan iler yang sedikit menetes sampai ke kerah baju. Walaupun ilernya mengalir, namun gadis itu tetap cantik. Azzam jadi membayangkan, ileran aja masih cantik, gimana kalo ngeden ya? Ah, tapi Azzam tak berani membayangkan, pamali kalo kata orang tua bilang.

“Eliana…Eliana” ucap Azzam sambil menepuk pundaknya.

“iya, mas Irul. Ada apa?” jawab Eliana setengah tertidur.

“udah tidur ya?” tanya Azzam

“Yeeee, dikirain apa. Tadi sih tidur, kalo sekarang sih udah bangun jadinya.” Eliana menjawab dengan keki.

“Ups, sori. Kalo gitu tidur lagi deh.” Azzam berkata tanpa rasa bersalah

10 menit telah berlalu sejak pesawat meninggalkan airport. Kini pesawat mengudara di atas gurun pasir. Tampak Piramida Giza yang menjulang tinggi terlihat dari jendela pesawat. Melihat piramida, Azzam jadi teringat nasi tumpeng buatan ibunda tercinta di Indonesia.

Tiba-tiba, pesawat terguncang sangat keras. Captain pilot mengumumkan keadaan darurat. Masker oksigen berjatuhan dari kabin pesawat. Eliana pun langsung terbangun. Dengan cepat Azzam memakai masker oksigen tersebut dan ikut membantu Eliana memasangkan oksigennya.

Pesawat menukik sangat cepat. Seluruh orang di pesawat panik dan berteriak. Para pramugrari yang nan cantik pun tidak ketinggalan berteriak, namun demi menjaga image, mereka berteriak tapi tetap cantik. Sungguh tidak penting.

Pesawat akhirnya mendarat di gurun pasir. Hampir seluruh bodinya hancur. Para penumpang banyak yang pingsan dan beberapa meninggal dunia kecuali Azzam dan Eliana. Semua itu karena mereka pemeran utama. Engga seru aja kalo pemeran utamanya meninggal dunia. Kemudian Azzam membuka pintu darurat dan keluar besama Eliana. Sebenarnya Azzam ingin pergi ke toilet dulu, karena kebelet pipis dari tadi, namun dia urungkan karena merasa ini bukan waktu yang tepat untuk pergi ke toilet.

Sekeluarnya mereka dari pesawat, di depan mereka sudah hadir 3 sosok raksasa namun tidak terlihat jelas karena terhalang sinar matahari..

“awww!!!” teriak Azzam kaget sambil mengangkat kedua tangannya yang tergenggam menutupi mulutnya melihat sosok raksasa itu.”siapa kalian? jangan bunuh kami. bunuh dia saja!!” sambil menunjuk ke Eliana.

“Jangan takut Azzam. Nama saya Tumbleban. Kami datang dengan damai. Peace. Slanker, you know? Salam Peace, Love and Gaul.” Jawab salah satu raksasa berwarna kuning sambil menggerakan tangannya dari bibir, ke bahu kemudian menggoyangkan ke depan seperti ular. Sebelas duabelaslah dengan dwi andhika. Kini terlihat terlihat jelas bahwa mereka adalah robot raksasa

“Kami adalah para autobots, dan kami datang karena kamu adalah satu-satunya manusia yang bisa menyelamatkan kami dan bumi ini dari kehancuran oleh para Decepticon.” Ucap salah seorang autobots yang berwarna silver.

“Kenapa saya?” tanya Azzam

“Ya tadinya kami mau pilih Michael jackson, tapi sayang dia sudah meninggal duluan.”

“Terus, tugas saya apa untuk menyelamatkan bumi ini?”

“Tugas kamu adalah mencari The Matrix sebagai sumber utama dari Energon. The Matrix ada di dalam salah satu Piramida. Kamu harus menemukannya sebelum The Fallen, Megatron dan kroco-kroconya menemukannya terlebih dahulu. Tapi kamu harus mencarinya bersama wanita itu.”

“Eliana maksudnya? Kenapa?”

“Iya, karena dia pemeran utama juga. Jadi dia harus ikut. Banyak nanya nih anak. Ingat Azzam, kamu hanya punya waktu 2,5 jam untuk menemukan The Matrix. Kalau kamu berhasil menemukannya, kamu akan mendapatkan US50.000 tunai dan jalan-jalan ke Australia sekeluarga. Untuk membantumu menemukan The Matrix, kami akan berikan potongan Allspark agar kamu mempunyai pikiran super. Semoga berhasil!!”

“Tunggu!!! Terus, tugas kalian apa? Kalian tidak membantu kami??” tanya Azzam bingung.

“Kami bantu saja dengan doa. We will praise God.”

“Capek deh. Oh iya, sebelum pergi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada Eliana.” Ucap Azzam.

“Apa itu Mas Irul?” tanya Eliana.

“Ka..ka…mu..mmuuuu bukan mantan cowok kan?” tanya Azzam sedikit gugup.

“Ya bukanlah. Kalau mantan copet iya, tapi kalo mantan cowok ga mungkin kali” Jawab Eliana sedikit emosi.

“Yeee, aku kan cuma iseng nanya. Sapa tau aja nanti ada adegan yang mengharuskan kita berpelukan atau bahkan berciuman, dan aku ga mau baru mengetahui kalo wanita yang aku cium ternyata mantan cowok. Lagipula, padahal aku mengharapkan jawaban yang lebih dramatis dari sekedar mantan copet. Hmm, tapi ya sudahlah.” Balas Azzam.

“Sudah, jangan bertengkar. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Kita harus mencari Energon sekarang.” Tumbleban, robot raksasa berwarna kuning coba melerai.

“Tapi kita harus mencari dimana? Mesir ini luas lho. Kalo salah, kita bisa dehidrasi di gurun Sahara atau hipotermia di perut gajah Afrika.” Azzam sedikit pesimis dan banyak tidak nyambungnya.

“Eh tenang aja Mas Irul, aku punya teman yang biasa mencarikan sesuatu hilang. Mungkin dia bisa membantu. Sebentar ya aku telepon dulu.” Lalu Eliana mengambil hpnya dan mulai menelepon seseorang. “Halo Man, ini aku Eliana, masih inget kan? Aku butuh bantuan nih, bisa datang ya, cepat, ga pake lama. Posisiku sekarang di 340BB, 580BT, 1320LS dan 120LU. Aku tunggu ya”

5 menit kemudian.

Seorang cowok, seorang cewek dan 2 orang kameraman yang jenis kelaminnya tidak penting untuk diketahui datang menghampiri Azzam dan yang lainnya.

“Halo Man, pa kabar? O iya, ini Azzam, temenku di Mesir, dia yang butuh bantuan kalian. Mas irul, ini Mandala, temenku yang mungkin bisa membantu mencari benda itu” Eliana coba memperkenalkan tamu yang baru datang itu.
“O iya Mas Azzam, kenalin saya Mandala Putra Geledek, tapi biasa dipanggil Maman, dan ini partner saya Pia, kami dari tim Termelek-melek Transtipi.”

“Saya Khairul Azzam. Panggil saja Azzam.”

“Iya Mas Azzam, ada yang bisa kami bantu. Bisa ceritakan ke kami, kira-kira siapa yang akan kita cari?”

“Bukan siapa, tapi apa. Saya mendapat tugas untuk mencari sebuah benda bernama The Matrix, sumber utama dari Energon, yang katanya bisa menyelamatkan dunia ini”

“Oke, jadi kita mencari benda yang namanya The Matrix. Kira-kira ada petunjuk ga yang bisa mengarahkan kita menemukan benda itu?”

“Benda itu milik para Autobots. Pemilik terakhirnya para Prime.”

“Sekarang para Prime ini dimana?”

“Sudah mati. Prime terakhir yaitu Optimus Prime, pimpinan para Autobots juga sudah mati.”
Mandala mulai garuk-garuk kepala.

“Jadi pemilik benda itu, para Prime sudah mati. Kira-kira tau ga sebelum mereka mati, mereka menyerahkan benda itu ke siapa?”

“Mereka datang ribuan tahun yang lalu ke bumi ini, di tanah Mesir ini. Sepertinya mereka menyerahkan benda itu ke Firaun III, Ka-nakht tut-mesut.”

“Sekarang dimana si Ka-nakht tut-mesut ini?”

Udah mati juga.”

Sekarang Mandala mulai garuk-garuk pantat.

‘Gini deh Mas Azzam, ada ga orang yang belum mati?”

“Ada.”

“Siapa?”

“Luna Maya”

“Luna Maya ini tau The Matrix ada dimana?”

“Ya enggalah, kalo Ariel ada di mana, mungkin dia tau.”

Mandala mulai garuk-garuk pasir gurun.

“Gini deh Mas Azzam, kira-kira ada ga yang MASIH HIDUP dan TAHU mengenai keberadaan The Matrix ini?”

“Yang terakhir memperebutkan The Matrix adalah The Fallen, pimpinan para Decepticon. Pasti dia tahu mengenai The Matrix ini.”

“Akhirnyaaa…dari tadi kek!” Mandala menghela napas. “Mas Azzam tahu sekarang The Fallen tinggal dimana?”

“Saya tahu tempat tinggalnya The Fallen” tiba-tiba Tumbleban ikut bicara.

“Oke, target pertama kita adalah The Fallen. Bisa kita ke sana sekarang?”tanya Mandala.

“Supaya cepat, kami akan berubah menjadi kendaraan dan kalian bisa naik kami.” Ucap Tumbleban.
Kemudian ketiga robot raksasa itu berubah dari robot menjadi kendaraan. Robot berwarna kuning berubah menjadi Truk Sampah, Robot berwarna putih berubah menjadi mobil Ambulan pengangkut mayat dan robot berwarna hitam berubah menjadi Odong-Odong.

“Eh maaf ni Tumbleban, kok kita naek Truk Sampah, Ambulan sama Odong-odong sih? Emang ga ada yang kerenan sedikit apa, kaya Chevy Camaro, Pontiac, Hummer, atau Mustang gitu?” tanya Mandala sedikit ilfil.

“Udah jangan banyak cincong lho. Lo kan disini cuma figuran doang, Azzam aja ga banyak protes. Pilih mana, naek kita atau digendong Mbah Surip?” Jawab Tumbleban.
Akhirnya mereka berangkat ke tempat tinggalnya The Fallen.

Pencarian Hari I.

Lokasi: Tempat tinggal The Fallen, daerah sekitar Mesir.


“Azzam, piramida itu tempat tinggalnya The Fallen. Kalian bisa mencari tahu di sana. Kami bertiga, para Autobots akan berjaga di luar sini, sambil bertasbih mendoakan keselamatan kalian.” Tumbleban mencoba menjelaskan peran masing-masing.
Kemudian Azzam, Eliana, dan Tim Termelek-melek masuk ke Piramida itu.

“Permisi, ada orang?” Mandala coba bersopan-santun.
Lalu keluarlah sesosok robot wanita berpakaian seksi dari dalam Piramida.

“Halo, permisi mbak. Kenalin saya Mandala, boleh tanya apa benar disini tempat tinggalnya The Fallen?” Mandala bertanya kepada robot wanita berpakai seksi tersebut.

“Oh, iya benar. Ada perlu apa ya?”


“Bisa kita bertemu dengan beliau?”

“Oh bisa, sebentar ya saya panggilkan dulu. Dia lagi di belakang lagi ganti oli.”
Tak lama kemudian keluarlah robot raksasa.

Halo, permisi pak. Kenalin saya Mandala, ini partner saya Pia, dan ini klien saya Azzam dan Eliana. Kami dari tim Termelek-melek Transtipi.” Mandala mencoba bersopan-santun kembali.

“Iya ada apa ya rombongan begini pake bawa-bawa kamera segala?”

“Jadi begini pak. Klien saya, Azzam, sedang mencari suatu benda yang namanya The Matrix. Katanya Pak Fallen yang terakhir liat itu benda?”

“Oh itu benar. Kamu mau ambil itu benda? Silahkan saja. Saya sudah tidak butuh lagi kok. Sebentar ya saya ambilkan di dalam dulu.”

Tak lama kemudian.

“Nih The Matrix-nya” The Fallen menyerahkan sebuah benda ke Azzam.

“Lho, lho pak, begitu doang? Ga ada adu mulut dulu atau pake berantem dulu kek?. Atau bapak marah-marah dan mengusir kita, biar kita datang lagi besoknya atau diarahkan ke target lain gitu?. Kalo begini nanti acara kami jadi ga seru lagi pak. Gak ada dramanya sama sekali.” Mandala tiba-tiba protes karena begitu gampangnya The Fallen menyerahkan The Matrix.

“Iya, saya sudah tua mas. Sudah capek berantem terus. Sekarang saya mau menikmati masa tua saya dengan tenang. Apalagi sekarang saya ditemani sama robot cantik dari Jepang yang bernama Maria Oh Jawa ini”.


“Oh robot seksi ini istri Pak Fallen toh. Katanya dari jepang, kok namanya ada jawanya sih?” tanya Mandala sedikit heran.

“iya, dulu prototipe pertama saya diciptakan oleh para mahasiswa dari UI, ITB dan ITS dalam kontes robot. Katanya sih terinspirasi dari aktris jepang.” Wanita robot itu mencoba menjelaskan.

“oh begitu ya, pantas namanya agak familiar gitu.” Azzam coba ikut menyambung pembicaraan. “kalo begitu, kita pamit dulu ya. Terima kasih atas bantuannya”

“iya, sama nak Azzam.”
Akhirnya Azzam berhasil mendapatkan The Matrix lalu menyerahkan ke Autobots, dunia kembali damai, Azzam dan Eliana meneruskan perjalanan pulang ke Indonesia, dan pencarian itu tidak disiarkan dalam acara Termelek-melek karena pencariannya yang sangat singkat.
-THE END-

EPILOG
Azzam dan Eliana akhirnya sampai di Indonesia. Bandara Soekarno Hatta penuh sesak dengan orang-orang. Beberapa orang membawa kamera tampak sedang berkumpul di pintu luar.
“akhirnya, setelah sekian lama, aku menginjakkan kaki lagi ke Indonesia” ucap Azzam dalam hati.
Tiba-tiba seorang ibu tua menghampiri Azzam.
“Akhirnya, kau pulang juga anakku” ucap ibu tua tersebut.
“Maaf, ibu siapa ya? Aku ga kenal sama ibu?” tanya Azzam heran.
“Oh teganya kau melupakan aku, nak. Aku ibumu, orang yang melahirkan kamu. Mengapa kau tidak mengakui aku ibumu, padahal kau hanya pergi ke negeri seberang?”
“Maaf, aku tidak mengenal siapa ibu. Aku Azzam, aku baru pulang dari Mesir. Lagipula ibuku sekarang ada di Solo.”
“Dasar anak durhaka, sampai berani mengganti nama pemberian orang tuamu. Ku kutuk kau jadi batu, Malin!!!!”
Langit gelap, petir menyambar, dan tiba-tiba Azzam berubah menjadi batu.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda mendekati ibu itu.
“Bundo, ini Malin. Sapa yang bundo kutuak itu?

Sumber: http://music4hardcore.blogspot.com/2011/02/story-ketika-autobots-bertasbih.html#ixzz1JJgvhQzK

Saturday, May 22, 2010

Kucing Braveheart

 

                    Kucing Braveheart

”Akankah kita dikenang sebagai pahlawan?” Si Gendut bergoyang gelisah.
Aku menenangkannya. ”Kalian pahlawan.”
Kolonel Tua mendesah. ”Sebelum mati, kami harus tahu siapa namamu.”
”Namaku tidak penting.”
”Penting buat kami dan anak cucu kami!”
Aku memandangi ujung gang, yang dipenuhi sosok gelap anjing berbagai ras lengkap dengan taring tajam mereka. Musuh kami. Kujawab, ”Villam.”
”William Wallace!” jerit Si Kurus dari atas tong sampah.
Kolonel Tua mengangguk. “Wallace!”
“Wallace! Wallace! Wallace!” sorak seluruh prajurit.
Kuacungkan cakarku ke angkasa.
Semua terdiam.
Waktunya telah tiba.
Demi hidup dan matiku... ”Freedooommm!!!
”Miaaaaawwwww!!!!!”
Empatbelas Februari kini akan dikenang sebagai Hari Kepahlawanan Para Kucing.

( sumber : kemudian.com)

Wednesday, December 9, 2009

KESATRIA BERDARAH CAMPURAN - THE HALF BLOOD HEROKESATRIA BERDARAH CAMPURAN - THE HALF BLOOD HERO




















            KESATRIA BERDARAH CAMPURAN - THE HALF BLOOD HERO


                                                          PROLOGUE


Perang besar melanda dunia. Tiga suku di dunia, yaitu Romawi, Teuton, dan Galia sedang berjuang untuk memusnahkan suku yang membawa kehancuran dunia, suku yang selalu membawa rasa takut ke mana pun mereka berada, bahkan mendengar namanya saja, sudah dapat membuat nyali pasukan ciut, itulah Natar. Pasukan Natar sungguh sangat menakjubkan, mereka lebih kuat dari Romawi, lebih cepat dari Teuton, dan lebih pandai dari Galia. Hal ini menjadikan peperangan sangat sulit untuk segera diakhiri. Sudah tak terhitung jumlah pasukan yang menjadi korban perang. Baik dari pihak Romawi, Teuton dan Galia maupun dari pihak Natar.

Peperangan pun sampai pada puncaknya, 16 desa yang membantu Natar sudah berhasil dihancurkan. Dan sekarang, hanya tersisa Ibukota Natar dan Ibukota pasukan gabungan yang bermarkas di desa Romawi. Pagi pagi buta, pasukan Romawi, Galia dan Teuton mulai bergerak mendekati Desa Natar, Jarak yang cukup jauh membuat mereka membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak untuk sampai di Ibukota Natar. Mereka memilih jalur yang jauh, sehingga mereka dapat menyerang Natar dari pintu belakang desa, bagaian desa yang kurang dijaga ketat. Oleh karena itu, pasukan Natar tidak menyadari kedatangan Pasukan gabungan ini. Saat subuh datang, Gabungan Romawi, Teuton, dan Galia langsung bergerak menyerbu Ibukota Natar.
Peperangan berdarah tidak dapat terhindarkan. Peperangan ini berlangsung selama 3 hari tanpa henti. Sampai akhirnya Lucius, Natar Emperor mati di tangan Calvin, sang Jendral Romawi. Kematian Emperor membuat pasukan Natar menjadi kacau balau, sehingga mudah bagi Pasukan Galia dan Teuton untuk menghabisi mereka. Semua pasukan Natar dibunuh, Ibukota Natar diratakan dengan tanah, dan sejak saat itu, Sejarah mengenai Natar hilang bagai ditelan bumi, tidak pernah lagi terdengar keberadaan suku Natar. Dunia menjadi damai, tidak ada lagi terror ataupun ancaman perang. Namun tidak ada yang tahu, bahwa Lucius memiliki anak yang tidak diketahui keberadaanya.

(sumber: forum.travian.co.id)

Tuesday, December 1, 2009

CHAPTER I : AN AMBUSH OF UNKNOWN ARMY

20 TAHUN KEMUDIAN

Di sebuah desa suku Teuton, hiduplah seorang pemuda bernama Vale, ia seorang yatim piatu, ia tinggal bersama kakeknya di istana, kakeknya adalah seorang Chief Teuton yang sangat ternama, Chief Venus. Vale merupakan pemuda yang sangat kuat, perawakannya sangat sempurna, tinggi besar dengan otot yang menonjol di kedua lengan dan kakinya. Ia juga menguasai kemampuan bertarung di atas kuda dengan sangat baik, oleh karena itu, ia menjadi kesatria dari kelas Teutonic Knight di desa kakeknya itu. Ia membawahi 100.000 clubswingers, 50.000 spearmen, 250.000 axemen, 75.000 paladin, dan 150.000 Teutonic Knight. Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu 2 orang kepercayaannya, Tyranus dan Vulcano. Mereka juga berasal dari kelas Teutonic Knight. Di bawah kendali Vale, kedamaian desa terjaga dengan baik.
Hingga pada suatu malam, terdengar suara besar yang menggetarkan bumi,
‘BRAKK’ pagar tanah yang melidungi desa pun roboh. Sekitar 200 gajah besar diikuti dengan ribuan pasukan berkuda datang. Mereka sungguh menakutkan, pakaian mereka berwarna hitam, rambutnya merah, dan perawakannya sangat tinggi besar. Kekuatan mereka sulit ditandingi, bahkan oleh para teutonic knights bersenjata lengkap sekalipun. Vale sebagai pemimpin pasukan segera mengumpulkan pasukan dan segera memimpin peperangan. ‘Jaga Desa kita, Tebas sampai habis, jagan sisakan sedikitpun!!!’ Pasukan pun segera maju ke pusat desa yang menjadi medan perang. Dalam sekejab suasana malam yang hening terpecahkan oleh desing peluru catapults dan gesekan pedang yang saling beradu. Pasukan Teuton benar benar harus bekerja keras menghadapi serangan musuh tak dikenal ini, apalagi melawan pasukan kapak berkuda yang sungguh kuat dan menakjubkan, seorang pasukan kapak berkuda ini mampu membantai 8 sampai 10 pasukan Teuton. Vale menyadari keadaan semakin gawat, maka ia segera memberi perintah

‘Pindahkan Chief ke tempat yang aman! Sembunyikan beliau ke desa lain atau tempat mana saja yang aman! Cepat!’


Maka Volcano segera membawa 50 Teutonic Knights, 100 Spearmen dan 50 Paladin untuk menuju istana dan membawa lari Chief Venus.
Pertarungan terus berlanjut, Tyranus dan Vale yang merupakan teman sejak kecil benar benar sangat kompak, kombinasi ayunan pedang mereka benar benar hebat, hampir tak bercelah, setiap kali Vale dalam bahaya, Tyranus selalu siap menahan serangan itu. Namun ketangguhan Vale dan Tyranus tidak banyak membantu, para Teutonic Knights tetap mengalami kesulitan, pasukan tak dikenal ini benar benar beringas, walaupun para Knights sudah dilatih untuk mengincar leher musuh, musuh kali ini sangat berbeda, perawakan tubuh yang besar menyulitkan peperangan. Namun mereka tidak menyerah dan terus berjuang!

Beralih ke Vulcano, setelah berunding, akhirnya Vulcano dan Chief Venus setuju untuk pergi bersembunyi di desa kecil yang terpencil di bagian barat. Walaupun terpencil, desa ini sudah dikembangkan sebelumnya.

‘Kita menuju desa di barat, dan kita akan sampai dalam waktu sekitar 30menit. Tolong semua pasukan berjaga jaga untuk melindungi Chief’ Perintah Volcano

Perjalanan pun dimulai, pada awalnya perjalanan berjalan dengan lancar. Namun ketika akan memasuki desa…




Ceritanya bakal gue lanjutin besok, sepulang sekolah..
hehe..
nah ini bagus lho! yang di bold tlng diperbaiki

Quote:
Originally Posted by ronaldkg View Post
@master sho
maap, msdnya lbh cepet dari galia.. Hehe

ni lanjutan ceritanya...


CHAPTER II : THE MYSTERIOUS MAN


Seseorang melompat pasukan, ia bertubuh kekar dan tinggi, berambut merah, tangannya menggenggam sebuah tombak aneh dan banyak bekas luka di wajah dan lengannya. Ia mengenakan armor hitam lengkap.

‘Siapa kamu?’ Vulcano berteriak.

Orang itu tidak menjawab dan langsung mengambil kuda kuda menyerang, Vulcano degan sigap mengambil kuda kuda bertahan, orang asing itu melakukan tebasan horizontal yang dengan mudah dihindari Volcano, serangan balasan Volcano sangat cepat, namun orang asing itu bergerak lebih cepat menghindari tebasan pedang Volcano. Kedua kesatria itu segera mundur dan memperbaiki kuda kuda. ‘Cih, sepertinya aku harus membuatmu tidak bisa lagi mengucapkan siapa namamu!’ kata Volcano, dan segera Volcano melakukan serangan andalannya. Volcano melakukan tebasan ke arah leher orang asing itu dengan sangat cepat. Namun ternyata orang ini memang sangat tangguh, serangan andalan Volcano hanya menggores sedikit kulitnya. Setelah itu, akhirnya orang asing itu berbicara, ‘Kau bukan The Natar Prince, Kau bukan tandingan ku, dan aku tidak ada urusan dengan mu, akan segera kuakhiri pertarungan ini!’ Setelah berbicara demikian, orang asing ini bergerak dengan sangat cepat, ia berputar dan menyerang punggung Volcano dengan sisi tombak yang tumpul. Hal ini membuat Volcano jatuh tersungkur dan pingsan. Pasukan lain segera membuat formasi untuk melindungi Chief, namun karena gerakan orang ini sangat cepat, satu per satu pasukan yang melindungi Chief pingsan dipukulnya. Ia sama sekali tidak membunuh para pasukan itu, ia hanya membuat mereka pingsan, dan akhirnya hanya tersisa Chief dan orang asing itu….
nah ini lebih bagus
tlng ceritanya yg lebih panjang ya!
trs klo berbicara jng pake ` misal:`....................
harusnya begini " misal: ".........................."
kan jdi lebih bagus!