Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts

Tuesday, July 19, 2011

Gregor Mendel

Gregor Johann Mendel (lahir di Hynčice (Heinzendorf bei Odrau), Kekaisaran Austria , 20 Juli 1822 – meninggal di BrnoKekaisaran Austria-Hungaria , 6 Januari 1884 pada umur 61 tahun) disepakati sebagai Bapak Pendiri Genetika. Tinggal di Brno (Jerman: Brunn), Austria, ia adalah seorang rahib Katolik yang juga mengajar di sekolah. Rasa ingin tahunya yang tinggi menuntun dia melakukan pekerjaan persilangan dan pemurnian tanaman ercis. Melalui percobaannya ini ia menyimpulkan sejumlah aturan ('hukum') mengenai pewarisan sifat yang dikenal dengan nama Hukum Pewarisan Mendel.

Gen dominan dan resesif pada orang tua (P), anak (F1) dan cucu (F2) menurut Mendelg]

Perjalanan Hidup Gregor Mendel

Mendel dilahirkan tahun 1822 di kota Heinzendorf di daerah daulat kerajaan Austria yang kini masuk bagian wilayah Cekoslovakia. Tahun 1843 dia masuk biara Augustinian, di kota Brunn, Austria (kini bernama Brno, Ceko). Dia menjadi pendeta tahun 1847. Tahun 1850 dia ikut ujian peroleh ijasah guru, tetapi gagal dan dapat angka terburuk dalam biologi. Meski begitu, kepada pendeta di biaranya mengirim Mendel ke Universitas Wina, dari tahun 1851-1853 dia belajar matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Mendel tak pernah berhasil mengantongi ijasah guru resmi, tetapi dari tahun 1854-1868 dia menjadi guru cadangan ilmu alam di sekolah modern kota Brunn.
Sementara itu, mulai tahun 1856 dia memperlihatkan pengalaman-pengalamannya yang masyhur di bidang pembiakan tumbuh-tumbuhan. Menjelang tahun 1865 dia sudah menemukan hukum keturunannya yang kesohor dan mempersembahkan kertas kerjanya di depan perkumpulan peminat sejarah alam kota Brunn. Tahun 1866 hasil penyelidikannya diterbitkan oleh majalah Transactions milik perkumpulan itu di bawah judul "Experiments with Plant Hybrids." Kertas kerja keduanya diterbitkan oleh majalah itu juga tiga tahun kemudian. Kendati majalah itu bukanlah majalah besar, tetapi banyak terdapat di pelbagai perpustakaan besar. Di samping itu Mendel mengirim satu salinan kepada Karl Nageli, seorang tokoh disegani di bidang ilmu genetika. Nageli membaca salinan itu dan membalas kepada Mendel tetapi dia tidak paham apa yang teramat penting dalam salinan kertas kerja Mendel itu. Sesudah itu umumnya kertas kerja Mendel diabaikan dan nyaris dilupakan orang hampir tiga puluh tahun lamanya.
Tahun 1866 Mendel ditunjuk jadi pendeta kepala di biaranya. Kesibukan administrasi rutin membuatnya kehabisan waktu melanjutkan penyelidikannya dalam bidang tanam-tanaman. Ketika dia meninggal tahun 1884 dalam usia enam puluh satu, penelitiannya nyaris dilupakan orang dan dia tak peroleh pengakuan apa pun untuk hal itu.


Karya

Jerih payah Mendel baru diketemukan kembali tahun 1900 oleh tiga ilmuwan dari tiga bangsa yang berbeda-beda: Hugo de Vries dari Belanda, Carl Correns dari Jerman dan Erich von Tschermak dari Austria. Mereka bekerja secara terpisah tatkala menemukan artikel Mendel. Masing-masing mereka sudah punya pengalaman sendiri di bidang botani. Masing-masing secara tersendiri menemukan hukum Mendel. Dan masing-masing (sebelum menerbitkan buku) secara seksama mempelajari hasil kerja Mendel dan masing-masing pula menjelaskan bahwa penyelidikannya memperkuat pendapat Mendel. Satu kebetulan segitiga yang aneh! Lebih dari itu, di tahun itu juga, William Bateson, ilmuwan berkebangsaan Inggris, menemukan pula kertas kerja Mendel yang asli dan segera mengedepankan kepada kalangan dunia ilmu. Di penghujung tahun itu Mendel dapat sambutan meriah dan penghargaan atas begitu hebat karya-karya yang dilakukannya selama masa hidupnya.
Bukti-bukti apakah perihal keturunan yang sudah ditemui Mendel? Pertama, Mendel mengetahui bahwa pada semua organisme hidup terdapat "unit dasar" yang kini disebut gene yang secara khusus diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang diselidiki Mendel, tiap ciri pribadi, misalnya warna benih, bentuk daun, ditentukan oleh pasangan gene. Suatu tumbuhan mewariskan satu gene tiap pasang dari tiap "induk"-nya. Mendel menemukan, apabila dua gene mewariskan satu kualitas tertentu yang berbeda (misalnya, satu gene untuk benih hijau dan lain gene untuk benih kuning) akan menunjukkan dengan sendirinya dalam tumbuhan tertentu itu. Tetapi, gen yang berciri lemah tidaklah terhancurkan dan mungkin diteruskan kepada tumbuhan keturunannya. Mendel menyadari, tiap kegiatan sel atau gamete (serupa dengan sperma atau sel telur pada manusia) berisi cuma satu gene untuk satu pasang. Dia juga menegaskan, adalah sepenuhnya suatu kebetulan bilamana gen dari satu pasang terjadi pada satu gamete dan diteruskan kepada keturunan tertentu.
Hukum Mendel, meski sudah dilakukan perubahan kecil, tetap merupakan titik tolak dari ilmu genetika modern. Dia memilih untuk bidang penyelidikannya jenis tumbuhan yang ciri-ciri khasnya ditentukan oleh seperangkat gene. Kalau saja ciri-ciri pokok yang diselidikinya masing-masing sudah ditentukan oleh pelbagai perangkat gene, penyelidikannya akan menghadapi kesulitan yang luar biasa. Tetapi, keberuntungan ini tidak akan menolong Mendel kalau saja dia tidak punya sifat kecermatan yang dahsyat dan kesabaran seorang pencoba, dan juga tidak akan menolongnya apabila dia tidak menyadari bahwa perlu membuat analisa statistik dari pengamatannya. Karena faktor contoh-contoh di atas, umumnya mungkin tidak bisa diduga jenis kualitas mana sesuatu keturunan akan mewariskan. Hanya lewat sejumlah besar percobaan (Mendel sudah mencatat hasil lebili dari 21.000 tumbuh-tumbuhan!), dan lewat analisa hasil-hasilnya, Mendel dapat menarik kesimpulan terhadap hukum-hukumnya.
Jelaslah, hukum keturunan merupakan penambah penting buat pengetahuan manusia, dan pengetahuan kita tentang genetika mungkin akan lebih dapat dipraktekkan di masa depan daripada sebelumnya. Ada pula faktor yang tak boleh diabaikan kalau kita memutuskan dimana Mendel mesti ditempatkan dalam urutan daftar buku ini. Karena penemuannya diremehkan di saat hidupnya, dan kesimpulan-kesimpulannya diketemukan oleh ilmuwan yang datang belakangan, penyelidikan Mendel dianggap tidak berdiri sendiri. Apabila alasan ini dipaksakan, orang bisa berkesimpulan bahwa Mendel mungkin bisa tersisihkan sepenuhnya dari daftar, seperti halnya Leif Ericson, Aristarchus, Ignaz Semmelweiss telah disisihkan guna memberikan tempat buat Colombus, Copernicus dan Joseph Lister.
Tetapi, ada beda antara kasus Mendel dengan lainnya. Pekerjaan Mendel terlupakan hanya sebentar, dan begitu diketemukan kembali, segera melangit. Lebih jauh dari itu, de Vries, Correns, dan Tschermak, meskipun mereka menemukan kembali prinsip-prinsipnya secara independen, toh dia baca karya Mendel dan mengutip hasil-hasilnya. Akhirnya, orang tidak bisa bilang karya Mendel tak berpengaruh kendati de Vries, Correns dan Tschermak tak pernah hidup di dunia. Artikel-artikel Mendel sudah tersebar luas riwayat-riwayatnya (oleh W.O. Focke) sekitar masalah keturunan. Tulisan itu cepat atau lambat sudah dapat dipastikan akan diketemukan juga oleh mahasiswa-mahasiswa yang serius di bidang itu. Juga layak dicatat, tak satu pun dari ketiga ilmuwan itu yang menuntut bahwa merekalah penemu ilmu genetika. Juga, secara umum dunia ilmu sudah menyebutnya sebagai "Hukum Mendel."
Penemuan Mendel kelihatannya bisa dibandingkan dengan penemuan Harvey, baik dari segi orisinalnya maupun arti pentingnya tentang peredaran darah, dan dia sudah ditempatkan pada urutan yang sewajarnya.

[ sumber : wikipedia.org ]

Wednesday, July 13, 2011

Claude Monet




Pelukis impresionis Prancis, Claude Oscar Monret, dilahirkan di Paris pada 14 November 1840. Namun, masa kecilnya dihabiskan di Le Havre tempat ayahnya membuka toko grosir. Pada usia 15 tahun, ia mulai menjual lukisannya di jalan dan 4 tahun kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis dan pergi belajar di Academie Suisse, Paris. Setelah terpaksa mengikuti wajib militer, di tahun 1862 ia kembali ke Paris dan belajar di bawah bimbingan Charles Gleyre. Di tempat itu, ia bersahabat dengan Edouard Manet dan Pierre Renoir.
Monet dikenal akan detail yang luar biasa pada karyanya, sapuan-sapuan kuas ringan, warna-warna yang berani, dan efek cahaya yang berubah-ubah. Sukses pertamanya simulai dari Gaun Hijau, Lukisan Istrinya, Camile, yang diterima galeri Salon. Namun karya-karya berikutnya selalu di tolak sehingga ia jatuh miskin dan terpaksa maminjam uang kepada teman-temannya untuk membeli peralatan melukis. Pada tahun 1874, Monet, Camile Pissaro, Edgar Degas, Paul Cezanne, dan beberapa pelukis lainnya membuat pameran di Paris. Ini lebih baik daripada memamerkannya di salon Des Refuses. Pada 1880, setelah istrinya meninggal, sebuah lukisan Monet siterima di salon. Namun karena Monet tidak menyukai posisi diberikan pada lukisan itu , ia menolak memamerkan karyanya di sana lagi.
Kata impresionisme, sebuah gerakan yang berciri pengamatan langsung terhadap alam, berasal dari salah satu lukisan Monet, impression, sunrise (1872). Seorang kritikus mengatakan bahwa karya ini mengingatkannya pada hiasan dinding karena lukisan ini tampak seperti sketsa dan belum selesai.

Sunday, June 19, 2011

W.A Mozart



Wolfgang Amadeus Mozart merupakan salah satu musisi paling terkenal sepanjang masa. Mozart lahir di Salzburg, Austria pada tahun 1756. Sejak usia 6 tahun, ia dan kakak perempuannya telah berkeliling Eropa bersama ayahnya, Leopold, yang seorang pemain biola dan composer. Mozart kecil ini pun menjadi anak ajaib yang menarik perhatian banyak orang karena kepiawaiannya dalam memainkan clavier, biola, dan organ. Bahkan, ia pun kemudian mampu memainkan harpsichord dan piano.
Pertemuannya dengan Johann Crishtian Bach, putra J. Sebastian Bach, di London, 1764 menghasilkan simfoni pertamanya. Pada usia 11, ia mengubah sonata-sonatapiano komposer lain menjadi 4 konserto pianonya yang pertama dengan tambahan interlude dan episode untuk orchestra. Pada 1768, ia menulis opera buffa (opera komedi) untuk pertama kali dengan judul La Finta Semplice (Niat Sederhana) dan operet Jerman, Bastien Und Bastienne. La Finta Semplice dipertunjukan pertama kali padatahun berikutnya dengan Mozart sebagai corcertmaster (pemain biola utama).
Pada 1769-1773, Mozart dan ayahnya melakukan perjalanan ke itali. Pada masa ini, ia sangat produktif dalam menulis simfoni, opera, kuartet gesek, dan berbagai karya rahasia. Di Milan, ia diminta menulis opera seria, opera italia bertema kepahlawanan. Mithridas, Raja Pontus ditampilkan pada 1770 dan menjadi terkenal. Mozart pn kemudian dianugrahi gelar ksatria Orde Spur Emas. Dari Itali, ia melanjutkan perjalanannya ke Mannheim dan Paris. Di sana ia memperoleh ketenaran dan kekayaan.
Setelah itu, ia kembali ke Salzburg dan menjadi concertmaster. Hidupnya yang penuh dengan kemewahan dan kegemarannya berjudi membuatnya mengalami kesulitan keuangan pada masa akhir hidupnya. Mozart meninggal pada 5 Desember1791 pada usia 35 tahun, dalam kesulitan ekonomi. Kesuksesan Die Zauberflote (Flute Ajaib) tidak dapat dinikmatinya. Opera seria terakhirnya, pengampunan Titus, dibuat pada bulan September. Sedangkan karya terakhirnya yang belum sempat diselesaikan adalah Requiem Mass in D Minor (misa kematian dalam D minor) yang dibuat di tempat tidurnya tepat menjelang kematiannya.
Mozart melahirkan lebih dari 600 karya meliputi 41 simfoni, 27 konserto, 23 kuartet gesek, 17 sonata piano, 7 opera besar, dan karya-karya untuk nyanyian dan alat music lainnya. Karya opera lainnya yang terkenal adalah pernikahan Figaro (1786), Don Giovani (1787), dan Cosi fan Tutte (semua wanita seperti itu, 1790). Sedangkan karya music lainnya yang terkenal adalah Piano Concero No.9 in E-flat Major (jeunehomme, 1777) dan Einne kleine Nachtmusik ( music malam kecil, k. 525, 1787). Karya-karya Mozart kemudian dikatalogisasi ileh Ludwig Von Kochel pada 1862 dan penomoran kochel ini digunakan sebagai standar untuk merujuk karya Mozart. Jeunehomme Concerto, misalnya, disebut k. 271.

[ sumber : berbagai sumber]

Wednesday, June 8, 2011

Ludwig van Beethoven


Ludwig van Beethoven (dibaptis 17 Desember 1770 di Bonn, wafat 26 Maret 1827 di Wina) adalah seorang komponis musik klasik dari Jerman. Karyanya yang terkenal adalah simfoni kelima dan kesembilan, dan juga lagu piano Für Elise. Ia dipandang sebagai salah satu komponis yang terbesar dan merupakan tokoh penting dalam masa peralihan antara Zaman Klasik dan Zaman Romantik. Semasa muda, ia adalah pianis yang berbakat, populer di antara orang-orang penting dan kaya di Wina, Austria, tempatnya tinggal. Namun, pada tahun 1801, ia mulai menjadi tuli.
Ketuliannya semakin parah dan pada 1817 ia menjadi tuli sepenuhnya. Meskipun ia tak lagi bisa bermain dalam konser, ia terus mencipta musik, dan pada masa ini mencipta sebagian karya-karyanya yang terbesar. Ia menjalani sisa hidupnya di Wina dan tak pernah menikah.

Awal karier
Pada awal kariernya di Wina, Beethoven masih mendapat gaji dari Pangeran Franz, selain itu ia juga dibantu oleh beberapa bangsawan yang mendukungnya, antara lain Pangeran Carl von Lichnowsky. Beethoven mendedikasikan kepadanya salah satu sonata pianonya yang paling terkenal, Sonata in C Minor ‘Pathetique’, Op. 13. Masa awal Wina merupakan masa yang cukup produktif bagi Beethoven. Komposisi-komposisi yang ia gubah antara lain simfoni no. 1 dan 2, lima sonata piano termasuk ‘Moonlight’ sonata dan ‘Pastorale’ sonata, sonata biola keempat dan kelima (Op. 23 dan Op. 24), variasi cello pada Bei Mannern, welche Liebe fuhle milik Mozart, Quintet Op. 18, Septet in Eb Major, Op. 20, dan Quintet, Op. 29. Beethoven tidak hanya populer sebagai pianis virtuoso namun juga sebagai komponis. Murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga aristokrat.

Mulai periode ketulian
Pada pertengahan 1801, Beethoven menyadari bahwa daya pendengarannya mulai berkurang akibat otoslerosis. Sebuah surat yang ditemukan di sebuah rumah Beethoven di Heiligenstadt dekat Wina yang dikenal sebagai ‘Warisan Heiligenstadt’ berisikan betapa sedihnya Beethoven karena penyakit yang dialaminya. Kesedihannya memang wajar karena pada saat itu Beethoven sedang dalam puncak kariernya. Karena penyakit ini, Beethoven menjadi depresi dan dia menjadi semakin minder dalam pergaulan sosial. Salah satu alasan lain depresinya Beethoven adalah karena ia tak berhasil mendapatkan ‘teman hidup’. Banyak wanita bangsawan yang sering dicintainya namun umumnya cintanya bertepuk sebelah tangan.

Lepas dari masa kemuraman
Pada tahun 1802, Beethoven keluar dari kemuramannya. Dia melanjutkan membuat komposisi. Pada tahun 1803 dia mementaskan Piano Concerto in Eb Major, Op. 37 dan tampil sebagai solois. Pada tahun yang sama Beethoven juga memainkan Violin Sonata Op. 47 miliknya dengan violinis virtuoso George Polgreen Bridgetower (1799-1860) dan mempersembahkan karya tersebut kepada Rudolph Kreutzer.

Symphony No. 3 Eroica
Pada tahun 1805 menggubah Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’, Op. 55. Menurut temannya, Ferdinand Ries, Beethoven merobek judul asli simfoni yang didekasikan untuk Napoleon Bonaparte itu. Beethoven sangat marah setelah tahu bahwa Napoleon mengumumkan dirinya menjadi kaisar Perancis. Beethoven mengubah judul simfoni asli ini, ‘Bonaparte’ dan menulis ‘Sinfonia Eroica…composta per festiggiare il sovvenire de un grand’ uomo’ yang berarti ‘Simfoni eroika, ditulis untuk mengenang seseorang yang agung’.
Tulisan ‘Sinfonia Grande intitolata Bonaparte del Sigre’ yang terdapat pada kopi manuskrip simfoni yang pertama dan kedua dihapus Beethoven secara paksa dan meninggalkan bekas lubang. Namun, kemarahan Beethoven hanya sebentar karena beberapa bulan setelah penobatan Napoleon, Beethoven mengirim surat pada Breitkopf & Härtel ‘titel simfoni itu sebenarnya Bonaparte’ dan pada tahun 1810 dia menulis bahwa ‘misa ini mungkin bisa juga didekasikan untuk Napoleon’. Simfoni tersebut dipentaskan di kediaman Pangeran Lobkowitz pada akhir tahun 1804.

Gaya komposisi baru
Dengan simfoni Eroica, Beethoven memperlihatkan sikap yang mau berjuang dari masa depresinya dan tak mau kalah oleh penyakit. Menurut Carl Czerny, muridnya, Beethoven mencoba gaya komposisi baru sewaktu mengerjakan tiga sonata piano, Op. 31. Hasilnya terlihat pada tiga sonata miliknya, Piano Sonata in C Major ‘Waldstein’, Op. 53, Piano Sonata in F Major, Op. 54, dan Piano Sonata in F Minor ‘Appasionata’, Op. 57. Tapi, Beethoven pernah mengomel pada Czerny bahwa dia agak kesal karena publik hanya menyukai ‘Moonlight’ sonata miliknya padahal dia bisa menciptakan lagu-lagu yang lebih bagus dari lagu itu.
Simfoni kelima Beethoven dianggap sebagai simfoni yang memulai gaya baru. Pada simfoni ini, terdapat tempo nada yang seperti mars. Hal ini tak pernah terjadi pada masa-masa sebelum Beethoven.

Pentas opera Fidelio
Pada tahun 1805, sebuah teater mementaskan opera milik Beethoven, Fidelio, yang memiliki judul asli Leonore. Namun, pementasan ini tak berhasil karena pada beberapa hari sebelumnya, Wina ditaklukkan oleh Napoleon. Fidelio direvisi oleh Beethoven dua kali, tahun 1806 dan 1814. Beethoven juga menciptakan empat overture untuk Fidelio yang diberi judul Overture Leonore no. 1, 2, dan 3. Overture ke-4 diberi nama Overture Fidelio.
Sesungguhnya Beethoven belum memiliki pendapatan tetap. Dia baru menerima honor setelah menyelesaikan pesanan musik atau ada karyanya yang diterbitkan. Pada 22 Desember 1808, Beethoven mengadakan konser untuk mencari dana di teater Wina. Konser ini menampilkan banyak karya Beethoven yang terbaru, antara lain Symphony No. 5 in C Minor, Op. 67 dan Symphony No. 6 in F Major, Op. 68, konserto piano no. 4, dan Fantasien, Op. 80. Konser ini belum diketahui kesuksesannya dari segi keuangan.

Ingin pindah dari Wina
Pada tahun 1808, Beethoven sesungguhnya ingin pindah dan bekerja pada Jerome Napoleon di Cassel dengan gaji 2400 gulden/tahun. Namun, teman-temannya dari kalangan bangsawannya, antara lain Pangeran Rudolph , Pangeran Lobkowitz, dan Kinsky meminta Beethoven untuk tetap tinggal dengan jaminan mereka akan membayar gaji Beethoven sebesar 4000 Gulden per tahun. Beethoven juga membuat komposisi Piano Concerto No. 5 in B Flat Major ‘Emperor’, Op. 73, yang didekasikan untuk Pangeran Rudolph dan String Quartet in E Flat Major, Op. 74. Pada tahun yang sama, Napoleon menduduki kembali kota Wina sehingga banyak bangsawan yang melarikan diri dari sana. Beethoven menciptakan Piano Sonata in Eb ‘Les adieux’, Op. 81a.

Krisis keuangan
Pada tahun 1811, Beethoven semakin depresi pada masa sulit ini. Terutama karena ia tak berhasil mendapat jodoh. Salah satu wanita yang ia pinang adalah Countess Therese Malfatti namun ia ditolak. Beethoven juga mengalami krisis keuangan karena terjadi penurunan mata uang kertas di Wina. Harga uang menjadi seperlima dari mata uang terbaru. Beethoven juga mengalami perselisihan dengan adiknya, Johann. Namun, Beethoven mulai mengerjakan Symphony No. 7 in A Major, Op. 92 dan selesai pada awal 1812.
Pada musim semi tahun 1812, Beethoven berkunjung ke spa di Teplitz dan bertemu dengan Johann Wolfgang von Goethe, salah satu orang yang paling ia kagumi semenjak masa kecilnya. Pada tanggal 8 Desember 1813, Beethoven membuat simfoni ‘perang’ berjudul Wellington’s Victory. Beberapa komponis terkenal seperti Hummel, Mayseder, Moscheles, dan Salieri ikut ambil bagian pada pementasan simfoni ini.

Konser besar
Pada tanggal 29 November 1814, Beethoven mementaskan Fidelio yang sukses besar. Sebagian besar anggota kongres Wina ikut menonton opera ini. Di luar kesuksesan tersebut, pendengaran Beethoven semakin lama bertambah parah. Keadaan ini bertambah parah karena Beethoven menuntut hak orang tua asuh atas keponakannya, Karl. Beethoven menganggap ibu Karl tak sanggup mengasuh keponakannya. Beethoven memenangkan kasus ini namun ia pun bukan orang tua yang baik untuk Karl. Anak itu akhirnya menjadi tertekan dan mulai bergaul dengan geng anak-anak nakal. Puncaknya adalah pada tahun 1826, saat Karl mencoba bunuh diri. Hal ini membuat Beethoven cukup mengalami depresi. Setelah sembuh, Karl kembali ke ibunya dan masuk ke sekolah militer.
Pada tahun 1817, Beethoven keluar dari depresi dan kemurungannya. Hal ini terlihat dengan saat dia membuat Piano Sonata in A Major, Op. 101. Pada tahun 1817, Beethoven menggubah beberapa komposisi untuk seorang penulis Inggris, Richard Ford. Namun, karya-karya ini tak pernah diketahui sampai ditemukan di Inggris pada tahun 1999. Selain itu, Beethoven juga mulai merencanakan untuk menggubah piano sonata-nya yang paling revolusioner, Piano Sonata in Bb 'Hammerklavier', Op. 106.

Missa Solemnis
Pada tahun 1822, Beethoven menggubah Missa Solemnis untuk penobatan Pangeran Rudolph sebagai uskup di Olomouc pada tahun 1819. Beethoven juga memulai rancangan simfoni ke-9-nya.
Pada 7 Mei 1824, Beethoven mementaskan Missa Solemnis beserta Simfoni ke-9 di Wina. Konser ini sukses besar. Tapi ada berita yang mengatakan bahwa Beethoven tidak sadar kalau konsernya telah selesai dan terus membaca partitur. Caroline Unger, salah satu solois alto dalam simfoni tersebut harus menarik baju Beethoven agar dia mau berbalik dan melihat ke arah penonton yang bertepuk tangan dengan meriah.
Pada tahun 1826, Beethoven menderita demam tinggi yang ternyata disebabkan oleh sakit ginjal. Penyakitnya tak tertolong dan dia meninggal pada 26 Maret 1827.

[ sumber : wikipedia.org ]

Tuesday, June 7, 2011

Hannibal Barca


Hannibal Barca (247 SM-183 SM) (bahasa Arab حنبعل). Barca atau Barcas yang artinya kilat serumpun dengan Baraq, Barq, dan kalimat lain yang mirip di bahasa Semitik yang berdasarkan dari akar berpihak tiga B-R-Q) adalah seorang pemimpin militer di Perang Punisia Kedua dan seorang politisi, kelak dia juga bekerja di profesi yang lain, dia disebut-sebut sebagai salah satu dari pemimpin perang terhebat sepanjang sejarah. Dia hidup saat waktu tegang di Mediterania, ketika Romawi (lalu republik Romawi) membangun kekuatannya melewati kekuatan besar lain seperti Kartago, Macedonia, Syracuse, dan kerajaan Seleucid. Dia adalah salah satu pemimpin Kartago yang paling terkenal. Pencapaiannya yang paling besar adalah ketika meletusnya Perang Punic, ketika dia membawa pasukan yang mengandung gajah perang dari Iberia melewati Pyrenees dan Alps sampai bagian utara Itali.
Selama invasinya di Italia, dia mengalahkan prajurit Romawi di beberapa pertempuran, termasuk yang di Sungai Trebia, Trasimene dan Cannae. Sesudah Cannae, kota terbesar di Itali yaitu Capua mengikuti Hannibal melalui penyebrangan dari Roma. Hannibal kekurangan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menembus kota Roma yang sangat dipertahankan. Dia membangun prajurit di Italia lebih dari satu dekade sesudah itu, tidak pernah lupa kewajiban utamanya, tetapi tidak pernah bisa menekan perang sampai menghasilkan kepastian. Selama periode itu, prajurit Romawi kembali berkumpul. Invasi balasan dari Romawi di Afrika Utara memaksa dia untuk kembali ke Kartago, dimana dia dikalahkan di pertempuran Zama. Kekalahan itu memaksa Senat Kartago untuk mengirim dia ke pengasingan. Selama pengasingan ini, dia tinggal di Istana Seleucid, dimana dia bertindak sebagai penasihat militer Antiochus III saat perangnya melawan Romawi. Karena kekalahannya di pertarunganmaritim, Hannibal melarikan diri lagi, kali ini ke Istana Bithynian.Ketika Romawi meminta dia menyerah, dia lebih memilih melakukan bunuh diri daripada setuju untuk menyerah.
Hannibal juga disebut sebagai salah satu jenderal terbesar sepanjang sejarah. Ahli sejarah militer, Theodore Ayrault Dodge bahkan menyebut Hannibal sebagai “Bapak dari strategi”, karena musuh terbesarnya yaitu Romawi, mengadopsi beberapa taktik militer Hannibal di dalam taktik mereka sendiri.Pujian ini menyebabkan dia mendapat reputasi yang kuat di dunia masa kini dan dia juga dikenal sebagai “pemberi strategi” oleh orang-orang seperti Napoleon Bonaparte dan Bangsawan dari Wellington. Kisah hidupnya juga menjadi dasar dari beberapa film and dokumentasi.

[ sumber : wikipedia.org ]

Friday, May 27, 2011

Leonidas


Leonidas (ejaan Inggris: [liːˈɒnidəs],[1] Yunani: Λεωνίδας; "anak Lion") adalah raja Sparta ke-17 dari dinasti Agiad, salah seorang anak dari Raja Anaxandridas II dari sparta, yang dipercayai sebagai keturunan dari Heracles karena kekuatan dan keberaniannya. Tanggal lahir Raja Leonidas tidak diketahui, namun ia diperkirakan meninggal di Pertempuran Thermopylae pada bulan Agustus, 480 SM.
Leonidas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Dorieus dan adiknya bernama Cleombrotus, yang sempat memimpin kekuasaan selama beberapa saat setelah kematian Leonidas, sebelum akhirnya digantikan oleh Paunsanias, anak Cleombrotus.
Leonidas naik tahta menggantikan Cleomenes I, sekitar tahun 489 atau 488 SM. Ia menikah dengan anak Cleomenes, Gorgo. Namanya menjadi terkenal akibat perannya di pertempuran Thermopylae.

Pertempuran Thermopylae
pertempuran pada 480 SM antara aliansi negara-kota Yunani melawan invasi Kekaisaran Persia yang berlangsung di celah Thermopylae di Yunani tengah. Walaupun jauh lebih sedikit jumlahnya, pasukan Yunani berhasil menahan Persia selama tiga hari pada pertempuran yang dianggap sebagai salah satu pertahanan terakhir paling terkenal ini. Sejumlah kecil pasukan yang dipimpin oleh Raja Leonidas dari Sparta menghalangi satu-satunya jalan yang dapat dilalui oleh pasukan besar Xerxes I dari Persia. Setelah tiga hari pertempuran, seorang penduduk lokal bernama Ephialtes berkhianat dengan membongkar jalur rahasia melalui pegunungan yang dapat dilalui untuk menembus garis pertahanan Yunani. Pasukan Persia berhasil menguasai celah tersebut dengan menderita kerugian yang sangat besar, tak seimbang dengan kerugian yang diderita pasukan Yunani.

[ Sumber : wikipedia.org ]

Alexander The Great


Aleksander III dari Makedonia (20/21 Juli 356 – 10/11 Juni 323 SM), lebih dikenal sebagai Aleksander Agung (bahasa Yunani: Μέγας Ἀλέξανδρος, Mégas Aléxandros), adalah raja Kekaisaran Makedonia (bahasa Yunani: Βασιλεύς Μακεδόνων), sebuah negara di daerah timur laut Yunani. Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya. Dia tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa. Aleksander lahir di Pella pada 356 SM dan merupakan murid seorang filsuf terkeal, Aristoteles. Pada tahun 336 SM Aleksander menggantikan ayahnya, Filipus II dari Makedonia, sebagai pemimpin Makedonia setelah ayahnya dibunuh oleh pembunuh gelap. Filipus sendiri telah menaklukan sebagian besar negara-kota di daratan utama Yunani ke dalam hegemoni Makedonia, melalui militer dan diplomasi.
Setelah kematian Filipus, Aleksander mewarisi kerajaan yang kuat dan pasukan yang berpengalaman. Dia berhasil mengukuhkan kekuasaan Makedonia di Yunani, dan setelah otoritasnya di Yunani stabil, dia melancarkan rencana militer untuk ekspansi yang tak sempat diselesaikan oleh ayahnya. Pada tahun 334 SM dia menginvasi daerah kekuasaan Persia di Asia Minor dan memulai serangkaian kampanye militer yang berlangsung selama sepuluh tahun. Aleksander mengalahkan Persia dalam sejumlah pertempuran yang menentukan, yang paling terkenal antara lain Pertempuran Issus dan Pertempuran Gaugamela. Aleksander lalu menggulingkan kekuasaan raja Persia, Darius III, dan menaklukan keseluruhan Kekasiaran Persia (Kekasiaran Akhemeniyah). Kekaisaran Makedonia kini membentang mulai dari Laut Adriatik sampai Sungai Indus.

Karena berkeinginan mencapai "ujung dunia", Aleksander pun menginvasi India pada tahun 326 SM, namun terpaksa mundur karena pasukannya nyaris memberontak. Aleksander meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM, tanpa sempat melaksanan rencana invasi ke Arabia. Setelah kematian Aleksander, meletuslah serangkaian perang saudara yang memecah-belah keksaisarannya menjadi empat negara yang dipimpin oleh Diadokhoi, para jenderal Aleksander. Meskipun terkenal karena pnaklukannya, peninggalan Aleksander yang bertahan paling lama bukanlah pemerintahannya, melanikan difusi budaya yang terjadi berkat penaklukannya.
Berkat penaklukan Aleksander, muncul koloni-koloni Yunani di daerah timut yang berujung pada munculnya budaya baru, yaitu perpaduaan kebudayaan Yunani, Mediterrania, Mesir, dan Persia yang disebut dengan Peradaban Hellenis atau Hellenisme. Aspek-aspek Hellenis tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium sampai pertengahan abad 15. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Cina. Khusus di Cina, pengaruh kebudayaan ini dapat ditelusuri di antaranya dengan artefak yang ditemukan di Tunhuang. Aleksander menjadi legenda sebagai pahlawan klasik dan diasosiasikan dengan karakteristik Akhilles. Aleksander juga muncul dalam sejarah dan mitos-mitos di Yunani maupun di luar Yunani. Aleksander menjadi pembanding bagi para jenderal bahkan hingga saat ini, dan banyak Akademi militer di seluruh dunia yang mangajarkan siasat-siasat pertempurannya.
Aleksander selama ekspansinya juga mendirikan beberapa kota yang semuanya dinamai berdasarkan namanya, seperti Aleksandria atau Aleksandropolis. Salah satu dari kota bernama Aleksandria yang berada di Mesir, kelak menjadi terkenal karena perpustakaannya yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya serta berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia pada masa itu.
Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Aleksander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia). Gelar yang Agung atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang lain serta keberhasilanya menaklukkan wilayah yang sangat luas.

Kelahiran
Aleksander dilahirkan pada tanggal 20 (atau 21) Juli 356 SM, di Pella, ibukota Kekaisaran Makedonia di Yunani Kuno. Dia terlahir sebagai putra Filipus II, Raja Makedonia. Ibunya adalah istri keempat Filipus, Olympias, putri Neoptolemos I, raja Epiros. Meskipun Filipus memiliki tujuh atau delapan istri ketika itu, namun Olympias adalah istrinya yang paling utama, barangkali karena dia yang melahirkan Aleksander.
Sebagai anggota dinasti Argead, Aleksander mengklaim diri sebagai keturunan Herakles melalui Karanos dari Makedonia. Dari pihak ibunya dan Aiakid, dia mengklaim diri sebagai keturunan Neoptelemos, putra Akhilles. Keponakan kedua Aleksander adalah jenderal Pyrrhos dari Epiros, yang oleh Hannibal dianggap sebagai komandan sehebat Aleksander atau kedua terhebat setelah Aleksander.
Menurut biografer Yunani kuno, Plutarch, Olympias, pada malam pernikahannya dengan Filipus, bermimpi bahwa rahimnya disambar petir, yang memicu semburan api yang menyebar sampai "jauh dan luas" sebelum padam. Beberapa waktu sebelum pernikahan, dikatakan bahwa Filipus bermimpi melihat dirinya menyegel rahim istrinya dengan menggunakan segel berukir singa. Plutarch mengajukan sejumlah penafsiran tentang mimpi-mimpi itu: bahwa Olympia telah hamil sebelum menikah, ditunjukkan dengan penyegelan rahimnya; atau bahwa ayah Aleksander adalah Zeus. Para sejarawan ada yang berpendapat bahwa Olympias yang ambisius membesar-besarkan cerita mengenai silsilah dewa Aleksander, yang lain berpendapat Olympias memberitahu Aleksander.
Pada hari kelahiran Aleksander, Filipus sedang bersiap-siap untuk mengepung kota Potidea di semenanjung Chalcidike. Pada hari yang sama, Filipus mendapat kabar bahwa jenderalnya Parmenion telah mengalahkan pasukan gabungan Illyria dan Paionia, dan bahwa kuda-kudanya telah memenangkan Olimpiade. Dikatakan pula bahwa pada hari itu, Kuil Artemis di Ephesos—salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno-terbakar. Hegesias dari Magnesia berkata bahwa kuil itu terbakar karena dewi Artemis menghadiri kelahiran Aleksander.

Masa anak-anak
Pada usia-usia awal, Aleksander diasuh oleh susternya, Lanike, saudari Kleitos si Hitam, calon sahabat dan jenderal Aleksander di masa depan. Pada masa anak-anak, Aleksander belajar pada Leonidas yang disiplin, seorang kerabat ibunya. Aleksander juga berguru pada Lysimakhos. Aleksander dbesarkan sebagai bangsawa muda Makedonia, dia belajar membaca, bermain lira, bertarung, dan berburu.
Ketika Aleksander berusia sepuluh tahun, seorang pedagang kuda dari Thessalia menawarkan seekor kuda pada Filipus. Kuda tersebut diberi harga senilai tiga belas talen. Kuda itu tidak mau ditunggangi oleh siapapun, dan Filipus memerintahkannya untuk dibawa pergi. Akan tetapi, Aleksander berkata bahwa rasa takut kuda itu adalah bayangannya sendiri dan meminta kesempatan untuk memunggangi kuda itu. Aleksander berhasil melakukannya. Menurut Plutarch, Filipus, yang merasa sangat senang melihat keberanian dan ambisi Aleksander, langsung mencium putranya itu dan menyatakan: "Putraku, kau harus menemukan kerajaan yang cukup besar untuk ambisimu. Makedonia terlalu kecil untukmu". Setelah itu Filipus membelikan kuda itu untuk Aleksander. Aleksander menamai kuda itu Bukephalas, bermakna "kepala lembu". Bukephalas akan menjadi teman perjalanan Aleksander dalam penaklukannya sampai ke India. Ketika Bukephalas mati (akibat usia tua, menurut Plutarch, karena sudah berusia tiga puluh tahun), Aleksander menamai sebuah kota sesuai nama kudanya (Bukephala).

Masa remaja dan pendidikan
Aristoteles sedang mengajari Aleksander.
Ketika Aleksander menginjak usia tiga belas tahun, dia membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi, maka dia pun mencari tutor. Beberapa calon tutornya antara lain Isokrates dan Speusippos, penerus Plato di Akademi Plato. Pada akhirnya, Filipus menawarkan pekerjaan itu pada Aristoteles, yang menerimanya. Filipus memberikan Kuil Para Nimfa di Mieza sebagai ruang belajar mereka. Sebagai imbalan atas pengajarannya, Filipus bersedia untuk membangun kembali kampung halaman Aristoteles di Stageira, yang pernah dihancurkan olehnya. Filipus merepopulasi kota itu dengan cara membeli dan memerdekakan para bekas warga yang sempat menjadi budak, atau dengan mengampuni para warga yang berada di pengasingan.
Mieza menjadi sekolah asrama bagi Aleksander dan anak-anak bangsawan Makedonia lainnya, misalnya, Ptolemaios, Hephaistion, dan Kassandros. Banyak murid di sana yang belajar bersama Aleksander kelak menjadi sahabat dan jenderalnya, atau yang lebih sering disebut sebagai 'Rekan'. Di Mieza, Aristoteles mengajari Aleksander dan kawan-kawannya pengobatan, moral, filsafat, agama, logika, dan seni. Berkat ajaran Aristoteles, Aleksander menjadi berminat pada karya-karya Homeros, terutama Iliad. Aristoteles memberi satu salinan Iliad pada Aleksander, yang selalu dibawanya dalam kampanye militernya.

[ sumber : wikipedia.org ]

Wednesday, May 18, 2011

Penulis Novel Pertama


Perempuan! ya, mungkin kita lebih mengenal penulis pria seperti Hemingway, Mark Twain, Ian Fleming, Gabriel Garcia Marquez, dan sebagainya. Tapi kalau disebut nama Murasaki Shikibu, mungkin banyak dari kita tidak tahu. Tapi Murasaki-lah penulis novel pertama di dunia yang menulis novel berjudul The Tale of Genji. Novel yang ditulis pada tahun 1007 Masehi ini berkisah tentang seorang pangeran yang mencari cinta dan kebijaksanaan. Dalam terjemahan bahasa inggris novel ini mencakup 54 bab dalam 1000 halaman. Lantas siapa novelis yang paling banyak menerbitkan karyamya? Perempuan juga! Dame Barbara Cartland (1901-2000) menyelesaikan novel tiap dua minggu sekali selama hidupnya telah menerbitkan 723 novel yang terjual lebih dari 1 milyar eksemplar dalam 36 bahasa!

Tuesday, May 17, 2011

Dinasti Fatimiyah

Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (bahasa Arab الفاطميون) ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi'ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma'iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti.

Kebangkitan Fatimiyah
Fatimiyah berasal dari sutu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ("Ifriqiya") namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971, ibukotanya dipindahkan ke Kairo.
Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Di masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.
Fatimiyah didirikan pada 909 oleh ˤAbdullāh al-Mahdī Billa, yang melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari jalur Fāthimah az-Zahra dan suaminya ˤAlī ibn-Abī-Tālib, {Imām Shīˤa pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fātimiyyūn "Fatimiyah".
Dengan cepat kendali Abdullāh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibukota yang dibangun di Tunisia.
Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibukota baru di al-Qāhirat "Sang Penunduk" (Kairo modern)- rujukan pada munculnya planet Mars. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.
Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islām, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk "Mad Caliph" Al-Hakim bi-Amrillah).

Kejatuhan
Pada 1040-an, Ziriyah (gubernur Afrika Utara di masa Fatimiyah) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Fatimiyah dan berpindahnya mereka ke Islām Sunnī, yang menimbulkan serangan Banū Hilal yang menghancurkan. Setelah 1070, Fatimiyah mengendalikan pesisir Syam dan bagian Suriah terkena serangan bangsa Turki, kemudian Pasukan Salib, sehingga wilayah Fatimiyah menyempit sampai hanya meliputi Mesir.
Setelah terjadi pembusukan sistem politik Fatimiyah pada 1160-an, penguasa Zengid Nūr ad-Dīn memerintahkan jenderalnya, Salahuddin Ayyubi, menaklukkan Mesir pada 1169, membentuk Dinasti Ayyubi Sunni.

[ sumber : wikipedia.org ]

Monday, May 9, 2011

Muhammad al-Fatih

Muhammad II (Bahasa Arab: محمد الثانى) juga dikenali dengan Muhammad al-Fatih kata terbitan dari fath(الفاتح) seperti surah al fatihah beerti surah pembukaan atau "Pembuka yang besar" dilahirkan pada 30 Mac 1432 di Edirne dan meninggal dunia pada 3 Mei 1481 di Hünkârcayırı, berdekatan Gebze. Baginda adalah Sultan yang memerintah Empayar Uthmaniyyah dalam masa singkat iaitu dari tahun 1444 ke 1446 dan kemudian dari tahun 1451 ke 1481. Baginda menakluk Constantinople pada umur 21 tahun yang membawa kepada kehancuran Empayar Byzantine.
Muhammad II dilahirkan di Edirne yang pada masa itu ibu kota kerajaan Uthmaniyyah pada 30 Mac 1432. Bapanya adalah Sultan Murad II (1404–51) ibunya Huma Hatun, anak perempuan Abd'Allah dari Hum.
Muhammad al-Fatih merupakan seorang sultan yang mementingkan kekuatan dalaman dan luaran para tenteranya. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketenteraan, sains, matematik dan menguasai enam bahasa (bahasa Turki, Greek, Hebrew, Arab, Parsi dan Latin) pada ketika berumur 21 tahun. Seorang pemimpin yang hebat, warak dan tawaduk selepas Sultan Salahuddin Al-Ayubbi (pahlawan Islam dalam Perang Salib) dan Sultan Saifuddin Muzaffar Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain Jalut menentang tentera Mongol). Malah sifat-sifat baginda dan tenteranya telah diisyaratkan oleh Rasulullah S.A.W:
"Constantinople akan ditakluki oleh tentera Islam. Rajanya (yang menakluk) adalah sebaik-baik raja dan tenteranya (yang menakluk) adalah sebaik-baik tentera."
Seorang Sahabat Rasullullah S.A.W, Abu Ayub Al Ansari pernah mengikuti ekspidisi perang menentang tentera Rom di Constantinople ketika di zaman kerajaan Bani Umaiyyah. Beliau ingin jasadnya dikuburkan di tembok Constantinople dan ketika ditanya mengapa beliau ingin dikuburkan ditembok tersebut, beliau berkata kepada panglima Bani Umaiyah: "Aku mendengar baginda Rasulullah S.A.W mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentera seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda."
Kejayaan baginda dalam menewaskan tentera salib menyebabkan ramai kawan dan lawan kagum dengan kepimpinan beliau serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Baginda merupakan anak didik Syeikh Syamsuddin yang mana merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.
Antara sumbangan baginda adalah menakluk Constantinople yang juga menyebabkan berakhirnya Empayar Byzantine. Baginda jugalah yang menukar nama Constantinople kepada Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah ditukar oleh Mustafa Kamal Ataturk kepada Istanbul. Di atas jasanya, Masjid Al Fatih telah dibina bersebelahan makamnya.
Diceritakan bahawa para tentera Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih sajalah yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hinggalah ke saat baginda meninggal dunia.

[ sumber : wikipedia.org ]

Imad ad-Din Atabeg Zengi

Imad ad-Din Atabeg Zengi (al-Malik al-Mansur) (juga disebut Zangi, Zengui, Zenki, atau Zanki; dalam bahasa Turki İmadeddin Zengi, dalam bahasa Arab: عماد الدین زنكي) (1085–14 September 1146) adalah anak dari Aq Sunqur al-Hajib, gubernur Aleppo dibawah Malik Shah I. Ayahnya dibunuh oleh kelompok Hashasin saat sedang menunaikan sholat di Mesjid Jami’ Mosul di tahun 1094. Menurut sejarawan Ibnu Atsir, Aq Sunqur al-Hajib adalah seorang gubernur yang sangat baik, menjaga sholat tepat pada waktunya dan selalu melakukan sholat tahajud di malam hari. Zanki kemudian diasuh oleh Karbuqa, gubernur Mosul.

Zanki menjadi atabeg Mosul ditahun 1127, dan Aleppo ditahun 1128, mempersatukan dua kota tersebut dalam satu pemerintahan, dan secara formal dinobatkan oleh Sultan Mahmud II dari Kesultanan Seljuk Agung. Imadudin Zanki mendukung Sultan muda tersebut dalam persaingan melawan saingannya Khalifah Al-Mustarshid. Patriach Gereja Syria Ortodok, Michael the Great (juga disebut Michael The Syrian)[1126-1199 A.D.] menyebutnya "Hziro Othuroyo/Hzira Athuraya" (secara harfiah :swinish assyrian). Istilah assyrian (Othuroyo/Athuraya) dalam bahasa syria mempunyai banyak arti. Dan kalimat itu berarti barbarian, namun Imadudin Zanki bukan bersuku bangsa assyria. Dalam Perjanjian Lama, bangsa assyria digambarkan sebagai barbarian, jahat dll. Tentu saja pernyataan ini sangat subjektif yang dipengaruhi rasa benci terhadap perjuangan Imadudin Zanki dalam rangka melawan pasukan salib yang telah merebut dan menjajah tanah suci umat islam.
Ditahun 1130, Ia bersekutu dengan Taj al-Mulk Buri dari Damaskus melawan Negara Salibis. Namun agaknya terjadi perselisihan diantara kedua pemimpin tersebut. Dalam pertikaian itu, ia memenjarakan putra Buri dan menguasai kota Hama darinya. Ia juga mengepung kota Hims, dimana Gubernurnya berkerjasama dengannya waktu itu, namun ia tidak dapat menguasainya, dan kembali ke Mosul, dimana putra Buri dan tawanan lain dari Damaskus ditebus dengan bayaran 50.000 dinar. Ditahun 1131 Zanki setuju untuk mengembalikan 50.000 dinar jika Buri mau menyerahkan kepadanya, Dubais, Emir al-Hilla di Iraq, yang lari ke Damaskus dari tawanan al-Mustarshid. Ketika utusan Khalifah tiba untuk membawa kembali Dubais, Zanki menyerangnya dan membunuh beberapa pengiringnya; sang utusan pun kembali ke Baghdad tanpa Dubais.
Di tahun 1134 Zanki melibatkan diri dalam urusan Artoqid, bersekutu dengan emir Timurtash (putra Ilghazi) melawan sepupu Timurtash, Da'ud. Namun Keinginan Zanki yang sesungguhnya adalah menyerbu ke selatan, Damaskus. Di tahun 1135 Zanki menerima permohonan bantuan dari Ismail, yang menggantikan ayahnya, Buri, sebagai Emir Damaskus, dan mengkhwatirkan atas keselamatan jiwanya dari penduduknya sendiri yang menganggapnya sebagai tirani yang kejam. Ismail bersedia menyerahkan kota kepada Zanki untuk memulihkan perdamaian. Namun tidak satupun keluarga atau penasehat Ismail menyetujui hal ini, dan Ismail pun dibunuh oleh ibunya sendiri, Zumurrud, untuk mencegahnya menyerahkan penguasaan kota kepada Zanki. Ismail digantikan oleh saudaranya Shihab ad-Din Mahmud.
Zanki tidak berkecil hari atas kejadian ini dan tiba di Damaskus, masih bermaksud menguasai kota. Pengepungan berlangsung untuk beberapa lama tanpa ada hasil di pihak Zanki, dan gencatan senjata pun dibuat dan saudara laki-laki Shahibudin, Bahram-Shah diserahkan sebagai jaminan. Diwaktu yang sama, kabar pengepungan tersebut sampai ke Khalifah di Baghdad, dan seorang utusan dikirim dengan perintah agar Zanki meninggalkan Damaskus dan mengambil alih Keemiran di Irak. Sang utusan diabaikan, namun Zanki meninggalkan pengepungan sebagai bagian dari gencatan senjata yang dibuat dengan Shahibudin. Dalam perjalanan pulang ke Aleppo, Zanki mengepung kota Hims, yang membuat sang gubernur murka padanya, dan Shahibudin menanggapinya dengan mengirim Mu'inudin Unur untuk memerintah kota tersebut.

Konflik dengan Salibis dan Bizantium
Ditahun 1137 Zanki menyerang kota Hims kembali, namun Mu'inudin berhasil mempertahankan kota; sebagai balasan atas serangan terbaru Zanki, Damaskus bersekutu dengan Kerajaan Salibis Yerusalem untuk melawannya. Zanki mengepung benteng salibis di Barin dan dengan cepat menghancurkan pasukan Yerusalem. Raja Fulk of Jerusalem setuju untuk menyerah dan diijinkan untuk menarik mundur pasukannya yang tersisa. Zanki yang sedang menyadari bahwa ekspedisinya kali ini melawan Damaskus akan mengalami kegagalan, membuat perdamaian dengan Shahibudin, tepat disaat yang sama terjadi konfrontasi di dengan tentara yang dikirim oleh Kaisar Bizantium, John II Comnenus. Sang Kaisar baru saja membawa pasukan salib Kepangeran Antiokia yang berada dibawah kekuasaan Bizantium, dan bersekutu dengan Joscelin II of Edessa dan Raymond of Antioch. Berhadapan denngan ancaman pasukan gabungan Bizantium/Salib, Zanki memobilisasi kekuatannya dan merekrut bantuan dari pemimpin muslim lainnya. Di bulan April 1138, pasukan gabungan kaisar Bizantium dan kedua pangeran salibis tersebut mengepung Shaizar, tetapi berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Zanki sebulan kemudian.
Dibulan Mei 1138 Zanki mencapai persetujuan dengan Damaskus. Ia menikahi Zumurrud, wanita yang membunuh anaknya sendiri, Ismail, dan menerima Hims sebagai hadiah perkawinannya. Dibulan Juli 1139 putra Zumurrud, Shihabudin, terbunuh dan Zanki bergerak ke Damaskus untuk mengambil alih kota. Penduduk Damaskus, bersatu dibawah pimpinan Mu'inudin Unur, yang bertindak sebagai wali dari pengganti Shihabudin, Jamaludin, sekali lagi bersekutu dengan Yerusalem untuk mengusir Zanki. Zanki juga mengepung kota Baalbek, dan Mu'inudin pun sanggup mempertahankan kota dengan baik. Setelah Zanki membatalkan pengepungannya atas Damaskus, Jamaludin wafat karena sakit dan digantikan oleh anaknya, Mujirudin, dengan Mu’inudin tetap sebagai wali.
Mu'inudin menandatangani perjanjian damai dengan Yerusalem untuk saling melindungi diantara mereka dalam melawan Zanki. Selama Mu'inudin dan Salibis bergabung bersama mengepung kota Banias, Zanki sekali lagi mengepung kota Damaskus, tetapi dengan cepat meniggalkannya lagi. Tidak ada perjanjian penting antara Salibis, Damaskus, dan Zanki untuk tahun-tahun yang akan datang dalam waktu dekat, tetapi Zanki untuk sementara waktu bergerak ke utara dan menguasai Ashib dan benteng Armenia di Hizan. Di tahun 1144 Zanki mengepung Kepangeranan Salib, County of Edessa. Edessa merupakan negara salib terlemah dan terakhir yang didirikan bangsa Latin, dan Zanki menguasainya tanggal 24 Desember 1144. Peristiwa ini memicu Perang Salib ke-dua, dan para sejarawan Muslim mencatatnya sebagai awal Jihad melawan negara-negara Salib.

Wafat
Dalam upayanya melanjutkan usaha penaklukan kota Damaskus di tahun 1145, Zanki dibunuh oleh seorang budak berbangsa Frank yang bernama Yarankash di tahun 1146. Sejarawan Kristen William of Tyre melaporkan bawa berita kematiannya disambut dengan gembira oleh para Salibis dengan sambutan "What a happy coincidence! A guilty murderer, which the bloody name Sanguinus, has become ensanguined with his own blood", persamaan bunyi dalam bahasa latin untuk darah adalah sanguis, dan terjemahan latin untuk nama Zanki adalah sanguis juga. Kematian mendadak Zanki, membuat pasukannya panik. Pasukannya terpecah, hartanya dijarah, dan para pangeran salib menjadi berani karena kematian Zanki, bersekongkol menyerang Aleppo dan Edessa. Muinudin pun segera merebut kembali kota Baalbek, Hims, dan wilayah lainnya yang telah dikuasai Zanki darinya.

Peninggalan
Ia adalah pendiri Dinasti Zanki. Di Mosul ia digantikan putra tertuanya Saifudin Ghazi I dan di Aleppo Ia digantikan oleh putra keduanya Nurudin.
Menurut Legenda Salibis, Ibu Zanki adalah Ida of Austria (ibu dari Leopold III of Austria), yang diduga ditawan selama Perang Salib di tahun 1101 dan ditempatkan di harem. Ditahun 1146, ia berumur 46 tahun, Sedangkan Zanki lahir tahun 1085, dan ayahnya wafat tahun 1094, jadi hal ini tidak mungkin.
Menurut Ibn Al Katsir, Zanki adalah seorang politisi yang ulung, sangat dihormati, dihargai oleh pasukannya dan orang-orang sipil lainnya serta tidak menganiaya orang-orang lemah. Sebelum ia memegang tampuk kekuasaan, negaranya dalam kondisi hancur karena merupakan tempat melintasnya para pemimpin yang korup dan bertetangga dengan kerajaan Salibis. Ketika ia memegang kekuasaan, semua itu berubah dan menjadikan negaranya kembali pada rel yang semestinya serta mengembalikan kemakmuran buat negaranya. Zanki adalah raja yang terbaik dalam bentuk dan perilakunya. Ia sangat pemberani dan kuat yang berusaha untuk dapat menguasai kerajaan-kerajaan lain pada waktu itu. Ia juga baik dengan kaum hawa dan berlaku dermawan kepada bawahannya. Setelah kemangkatannya ia dikenal sebagai seorang syahid (martir).
Imaduddin Zanki bekerja dalam kondisi dan situasi yang paling sulit. Pada satu sisi, ia berada di tengah konflik yang berkecamuk di antara para penguasa dan para pangeran dinasti Saljuk. Dan pada sisi yang lain ia berdiri di antara mereka yang bertikai dan dinasti Abbasiyah. Di tambah lagi dengan apa yang ia derita dari iklim yang diwujudkan oleh tradisi kekuasaan warisan dan kerakusan para pangeran dan penguasa untuk memerintah bahkan dengan hanya mendapatkan satu kota atau satu benteng sekalipun. Sebagaimana ia juga hidup pada masa di mana kekuatan Salibis masih terlalu superior dan penuh dinamika. Kendati demikian ia dapat meletakkan fondasi-fondasi bagi pembangunan pangkalan untuk bertolaknya jihad besar dan kuat yang membentang dari utara Syam ke arah utara Iraq. Sebagaimana ketangguhan dan superioritas Salibis dapat dipatahkan dan dipermalukan dalam berbagai medan laga. Zanki melancarkan jihad dan bekerja ekstra keras sehingga memungkinkan untuk memerangi mereka guna merebut kembali wilayah yang dirampas. Ia telah mempersembahkan model pemimpin dan mujahid yang berjalan di bawah bendera Islam yang mampu untuk mengembalikan harapan untuk membebaskan tanah-tanah suci milik umat Islam yang dijajah oleh para musuh di seluruh dunia.

[ sumber : wikipedia.org ]

Sunday, May 8, 2011

Roger Hargreaves google

Roger Hargreaves google siapa Roger Hargreaves profil nya seperti apa sih? Roger Hargreaves ini adalah penulis Charles Roger Hargreaves (9 Mei 1935 - 11 September 1988) adalah seorang pengarang Inggris dan ilustrator buku anak-anak, terutama Buku nya Mr Men dan Little Miss seri, ditujukan bagi pembaca yang masih sangat muda.


Buku-buku cerita 'sederhana dan konyol, dengan terang-berwarna, ilustrasi berani ditarik, telah menjadi bagian dari budaya populer selama lebih dari 25 tahun, dengan penjualan lebih dari 85 juta di seluruh dunia dalam 20 bahasa.



Hargreaves lahir di rumah sakit swasta pada 201 Bath Road, Cleckheaton, West Yorkshire, Inggris dibesarkan di High Lees, 703 Halifax Road, juga di Cleckheaton.


Dia menghabiskan satu tahun bekerja di binatu ayahnya dan bisnis dry-cleaning sebelum memulai ambisi awalnya adalah untuk menjadi seorang kartunis. Dan, pada tahun 1971, ketika ia bekerja sebagai direktur kreatif di sebuah perusahaan di London , ia menulis buku Mr Men pertama, Mr Tickle.


Dia awalnya mengalami kesulitan mencari penerbit, Namun buku-buku nya menjadi sebuah sukses instan, terjual lebih dari satu juta kopi dalam waktu tiga tahun. Pada tahun 1975 itu melahirkan animasi serial televisi BBC bernama Mr Men Show, Mr Tickle yang disuarakan oleh Arthur Lowe.


Pada tahun 1976, Hargreaves telah berhenti dari pekerjaan-Nya. Pada tahun 1981, seri Little Miss mulai muncul. Itu pun ia dibuat menjadi serial televisi pada tahun 1983, yang diriwayatkan oleh John Alderton, yang, dengan Pauline Collins, menyuarakan Pria dan Misses. Walaupun Hargreaves banyak menulis cerita anak-anak lainnya, termasuk seri Timbuctoo dua puluh lima buku, John Mouse, dan Roundy dan buku Squary, dia terkenal karena Mr Tickle dan Little Miss


Dengan istrinya, Christine, Hargreaves memiliki empat anak: Adam, Giles, dan kembar Sophie dan Amelia. Yang pertama dari karakter Mr Men dilaporkan telah diciptakan ketika Adam bertanya kepada ayahnya apa yang menggelitik tampak seperti: Hargreaves menggambar sosok dengan tubuh oranye bulat dan panjang, lengan karet, yang menjadi Mr Tickle.

Pada tahun-tahun terakhir nya Roger tinggal di Guernsey. Setelah Hargreaves meninggal akibat penyakit stroke tiba-tiba pada tahun 1988, Adam anak roger terus menulis dan menggambar Mr Men dan Little Miss dalam cerita baru. Namun, pada bulan April 2004, Christine menjual hak atas karakter Pria Mr ke grup chorion hiburan Inggris, seharga £ 28 juta.

[ sumber : kadri-blog ]

Friday, May 6, 2011

Sultan Baibars


Baibars adalah panglima perang dari dinasti Mameluk ketika pasukannya berhasil mengalahkan pasukan salib ke-7 pimpinan Raja Louis IX dari Perancis pada tahun 1250 M. Dia juga berhasil mengalahkan pasukan Mongol pimpinan Kitbuqa dalam pertempuran Ain Jalut, 1260 M. Dan selanjutnya melakukan serangkaian serangan terhadap kerajaan Kristen dimulai dari kerajaan Antioch di Syria yang secara terang-terangan bergabung dengan pasukan Mongol dalam pertempuran Ain Jalut.
Pada tahun 1263, dia menyerang Akka, tetapi belum berhasil merebutnya. Akan tetapi dia berhasil mengalahkan pasukan salib dalam berbagai pertempuran (Arsuf, Athlith, Haifa, Safad, Jaffa, Ashkalon, Caesarea) dimana disetiap ada kemungkinan, Baibars suka menjadikan tawanan para ksatria templar dan ksatria Hospitaller.
Di tahun 1266, Baibar mengalahkan pasukan Armenia di Sisilia yang merupakan satu-satunya sekutu terkuat dari kerajaan Antioch. Pada tahun 1268 Antioch berhasil dikepung dan berhasil dikuasainya pada tanggal 18 Mei.
Setelah kejatuhan Antioch, pasukan salib ke IX pimpinan Raja Edward I dari Inggris bergabung dengan pasukan Mongol bertempur melawan pasukan muslim pada tahun 1271 akan tetapi mereka tidak pernah sejengkalpun berhasil menduduki wilayah muslim. Kemudian Baibars bertempur melawan pasukan Turki Seljuk, di Anatolia.
Baibars meninggal pada tahun 1277 di Syria.

[ Sumber : wikipebia.org ]

Thursday, May 5, 2011

Biografi Salahudin Al-Ayubi

Biografi Salahudin Al-Ayubi (1138 - 1193 M)

Shalahuddin Al-Ayubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.



Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin/salahadin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.


Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.



Data lengkap tentang King Salahudin Al-Ayubi
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Yusuf Ayyubi
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubid
Ayah Najmuddin Ayyub


Selain dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin/salahadin mendapat reputasi besar di kaum Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak
ingin menengoknya. Bahkan di salah satu tembok Masjid
Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang
dipermak jadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, seorang
sejarawan masih menemukan sisa inskripsi ini: "Kerajaan-Mu, ya,
Kristus, adalah kerajaan abadi...."

Tapi jika masa lalu tak mudah pergi, dari bagian manakah dari
Saladin yang akan datang kepada kita kini? Dari ruang makamnya
yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Kisah Saladin
adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita
dahsyat bagaimana agama-agama telah menunjukkan
kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan ilham
pengorbanan - yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan.

Tapi sebagian besar kisah Saladin - yang tersebar baik di Barat
maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad
ke- 12 itu - adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani
dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan
darah. Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187.
Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen
kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan
pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu
akhirnya kalah juga, yang dilakukan Saladin bukanlah menjadikan
penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan
sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun
1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut
Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa
orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

"Anakku," konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya,
az-Zahir, menjelang wafat, "...Jangan tumpahkan darah... sebab
darah yang terpercik tak akan tertidur."

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang
tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa
cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, kita
toh tahu, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja Richard
Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya.
Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya
buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter.
Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan
pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa
takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa
melahirkan orang sebaik itu. Terutama ketika orang hanya
mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari
abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah
zaman yang penuh peperangan. Tapi pentingkah sebenarnya
masa silam?

Dari makam telantar orang Kurdi yang besar itu, suatu hari di
tahun 1970-an, saya kembali ke pusat Damaskus, lewat lorong
bazar yang sibuk di depan Masjid Umayyah. Kota itu riuh,
keriuhan yang mungkin tanpa sejarah.

l9 Januari 1991

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4, Grafiti, 1995, h.
388-390)

[ sumber : http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/02/biografi-salahudin-al-ayubi-1138-1193-m.html

Wednesday, May 4, 2011

Ernest Miller Hemingway

Ernest Miller Hemingway (lahir 21 Juli 1899 – meninggal 2 Juli 1961 pada umur 61 tahun) adalah seorang novelis, pengarang cerita pendek, dan jurnalis Amerika. Gaya penulisannya yang khas dicirkan oleh minimalisme yang singkat dan dengan gaya seadanya (understatement) dan mempunyai pengaruh yang penting terhadap perkembangan fiksi abad ke-20. Tokoh-tokoh protagonis Hemingway biasanya stoik, seringkali dilihat sebagai proyeksi dari karakternya sendiri–orang-orang yang harus memperlihatkan "keanggunan di bawah tekanan." Banyak dari karyanya dianggap klasik di dalam kanon sastra Amerika.
Hemingway, yang dijuluki "Papa," adalah bagian dari komunitas ekspatriat pada 1920-an di Paris, seperti yang digambarkan dalam novelnya A Moveable Feast. Ia yang dikenal sebagai bagian dari "Generasi yang Hilang," sebuah nama yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Gertrude Stein, mengalami kehidupan sosial yang penuh dengan badai, menikah empat kali, dan konon menjalin banyak hubungan romantis semasa hidupnya. Hemingway memperoleh Hadiah Pulitzer pada 1953 untuk The Old Man and the Sea. Ia memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1954, meskipun ia mengatakan bahwa ia "akan berbahagia–lebih berbahagia...bila hadiah itu diberikan kepada pengarang yang cantik itu Isak Dinesen," sambil merujuk kepada pengarang Denmark Karen Blixen.[1] Pada 1961, dalam usia 61, ia bunuh diri.
Ernest Hemingway dilahirkan pada 21 Juli 1899 di Oak Park, Illinois, sebuah suburban dari Chicago. Hemingway adalah anak lelaki pertama dan anak kedua dari enam anak yang dilahirkan dalam keluarga Clarence Edmonds ("Doctor Ed") dan Grace Hall Hemingway. Ayah Hemingway, seorang dokter, menyaksikan kelahiran Ernest dan kemudian meniup sebuah serunai di teras depannya, untuk mengumumkan kepada tetangga-tetangganya bahwa istrinya telah melahirkan seorang bayi lelaki. Keluarga Hemingway tinggal di sebuah rumah bergaya Victoria dengan enam kamar tidur, yang dibangun oleh nenek Ernest dari pihak ibunya yang telah menjanda, Ernest Hall, seorang imigran Inggris dan veteran Perang Saudara yang tinggal bersama keluarga itu. Nama Hemingway diberikan mengikuti nama neneknya.
Ibunda Hemingway berbakat menyanyi dan pernah bercita-cita untuk menjadi penyanyi opera dan hidup dengan memberikan pelajaran menyanyi dan musik. Ia seorang yang dominan dan seorang yang saleh dan berpandangan sempit, yang mencirikan etika Protestan yang ketat di Oak Park, yang kelak digambarkan Hemingway mempunyai "halaman yang luas dan pikiran yang sempit."[2] Ibunya ingin melahirkan anak kembar, dan ketika hal itu tidak terjadi, ia mendandani Ernest yang kecil dan saudara perempuannya Marcelline (18 bulan lebih tua) dengan pakaian yang sama dan gaya rambut yang sama pula, sambil berpura-pura bahwa kedua anak itu "kembar". Grace Hemingway lebih jauh memperlakukan anaknya secara feminin di masa remajanya dengan memanggilnya "Ernestine."[3] (Meskipun hal ini banyak dipemasalahkan oleh para penulis biografi -- khususnya Kenneth S. Lynn -- harus dicatat bahwa anak-anak lelaki dari kelas menengah keluarga Victorian sering diperlakukan seperti ini.)
Sementara ibunya berharap bahwa anaknya akan mengembangkan minat dalam musik, Hemingway mewarsi minat ayahnya yang aktif dalam kegiatan di luar rumah, yaitu berburu dan memancing di hutan-hutan dan danau-danau di Michigan utara. Keluarga itu memiliki sebuah rumah yang dinamai Windemere di Danau Walloon, Michigan dan seringkali melewati liburan musim panasnya di sana. Pengalaman-pengalaman awal dalam hubungan erat dengan alam ini kelak menanamkan dalam diri Hemingway kecintaan yang mendalam dan berlangsung seumur hidup terhadap petualangan di luar rumah dan kehidupan di tempat-tempat di dunia yang umumnya dianggap terpencil atau terisolasi.
Hemingway belajar di SMA Oak Park dan River Forest dan di sana ia berhasil baik dalam bidang akademis maupun atletik. Hemingway bertinju dan bermain rugby, serta memperlihatkan bakat yang luar biasa dalam pelajaran sastra Inggris. Pengalaman menulisnya yang pertama adalah menjadi untuk Trapeze dan Tabula, surat kabar dan majalah sastra sekolah.
Setelah SMA Hemingway tidak melanjutkan ke sekolah tinggi. Sebaliknya, pada usia 17 tahun ia memulai karier penulisannya sebagai seorang reporter muda untuk The Kansas City Star (1917). Meskipun ia bekerja di koran itu hanya selama enam bulan, sepanjang hidupnya ia menggunakan pedoman dari gaya penulisan Star' sebagai dasar untuk gaya penulisannya: "Gunakan kalimat-kalimat pendek. Gunakan alinea pertama yang singkat. Gunakan bahasa Inggris yang hidup. Bersikaplah positif, jangan negatif."[4]


Catatan :
1.^ Dari The New York Times Book Review, November 7, 1954.
2.^ Dari Childhood di The Hemingway Resource Center.
3.^ Tiga sumber berbeda pendapat tentang berapa lama kebiasaan ibunya ini berlangsung. Sebuah catatan dari sebuah rangkaian kuliah PBS mengatakan bahwa hal ini berlangsung dua tahun; Grauer mengklaim ia menghentikan hal ini ketika Ernest berusia 6 tahun; Analisis Juan menyebutkan bahwa perlakuannya berlanjut "bahkan hingga Ernest remaja;" ia juga mengklaim bahwa kadang kala ia akan berusaha menyamakan Ernest dengan kakak perempuannya Marcelline.
4.^ Sebuah daftar yang panjang tentang anekdot seperti itu dikumpulkan dalam halaman peringatan seratus tahun Kansas City Star.

T.S Elliot


Thomas Stearns Eliot OM (September 26, 1888 - 4 Januari 1965) adalah seorang penyair Inggris kelahiran Amerika, dramawan, dan kritikus sastra, boleh dibilang penyair Inggris-bahasa yang paling penting dari abad ke-20 [4] Puisi yang membuat nya. nama, Lagu Cinta J. Alfred Prufrock-dimulai pada tahun 1910 dan diterbitkan di Chicago pada tahun 1915-dianggap sebagai karya gerakan modernis. Ia mengikuti ini dengan apa yang telah menjadi beberapa puisi yang paling terkenal dalam bahasa Inggris, termasuk Gerontion (1920), The Waste Land (1922), The Hollow Men (1925), Rabu Abu (1930), dan Empat kuartet (1945 ). [5] Ia juga dikenal karena tujuh drama, khususnya Pembunuhan di Katedral (1935). Ia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra pada tahun 1948. [6]
Lahir di St Louis, Missouri, Eliot pergi ke timur untuk kuliah dan dididik di Harvard. Setelah lulus, ia belajar filsafat di Sorbonne selama setahun, kemudian memenangkan beasiswa ke Oxford pada tahun 1914. Seorang ekspatriat, ia menjadi warga negara Inggris pada usia 39. "[M] puisi y jelas lebih banyak kesamaan dengan sezaman dibedakan saya di Amerika dibandingkan dengan apa yang ditulis dalam generasi saya di Inggris," katanya tentang kebangsaannya dan perannya dalam karyanya. "Itu tidak akan apa itu, dan aku bayangkan itu tidak akan begitu baik ... jika aku dilahirkan di Inggris, dan tidak akan menjadi apa jika aku tetap tinggal di Amerika. Ini kombinasi hal Tetapi dalam sumbernya., dalam Surat emosional mata air, itu berasal dari Amerika. " Eliot meninggalkan kewarganegaraannya ke Amerika Serikat dan berkata: "Pikiranku mungkin Amerika tapi hatiku Inggris" [7].
Awal kehidupan dan pendidikan
Eliot dilahirkan dalam keluarga Eliot, sebuah keluarga borjuis [8] berasal dari New England, yang telah pindah ke St Louis, Missouri. [5] Ayahnya, Henry Ware Eliot (1843-1919), adalah seorang pengusaha sukses, presiden dan bendahara Hydraulic-Tekan Bata Perusahaan di St Louis. Eliot kredit kampung halamannya dengan penyemaian visi sastra nya: "Ini adalah jelas bahwa St Louis mempengaruhi saya lebih dalam daripada lingkungan lainnya yang pernah dilakukan saya merasa bahwa ada sesuatu dalam memiliki seseorang melewati masa kanak-kanak di samping sungai besar, yang. tak dpt diberitahukan kepada orang-orang yang belum. Saya menganggap diri saya beruntung telah lahir di sini, daripada di Boston, atau New York, atau London. "[9] Ibunya, Charlotte Champe Stearns (1843-1929), menulis puisi dan pekerja sosial, profesi baru di awal abad 20. Eliot adalah yang terakhir dari enam anak yang masih hidup; orang tuanya sama-sama 44 tahun ketika ia lahir. empat Nya sister adalah antara 11 dan 19 tahun lebih tua; saudaranya delapan tahun lebih tua. Dikenal untuk keluarga dan teman-teman sebagai Tom, ia diangkat menjadi nama ibu nya kakek Thomas Stearns.
Dari 1898-1905, dihadiri Eliot Smith Academy, di mana studinya termasuk Latin, Yunani Kuno, Perancis, dan Jerman. Dia mulai menulis puisi ketika ia berusia 14 di bawah pengaruh Edward Fitzgerald Rubaiyat Omar Khayyam, terjemahan dari puisi Omar Khayyam. Dia mengatakan hasilnya suram dan putus asa, dan ia membinasakan mereka. puisi tertua-Nya hidup, sebuah lirik judul, tanggal dari bulan Januari 1905. Puisi pertama yang ia menunjukkan siapa pun, "Sebuah Cerita Dongeng Untuk Feasters," ditulis sebagai latihan sekolah ketika ia berusia 15, dan telah diumumkan dalam Smith Akademi Rekam, dan kemudian dalam The Advocate Harvard, majalah mahasiswa Universitas Harvard. [10]
Setelah lulus, Eliot dihadiri Milton Academy di Massachusetts selama satu tahun persiapan, di mana ia bertemu Scofield Thayer, yang kemudian akan menerbitkan The Waste Land. Ia belajar filsafat di Harvard 1906-1909, mendapatkan gelar sarjana setelah tiga tahun, bukan empat biasa. [5] Frank Kermode menulis bahwa saat paling penting dari karir sarjana Eliot adalah pada tahun 1908, ketika ia menemukan Arthur Symons's simbolis Gerakan dalam Sastra (1899). Hal ini memperkenalkannya kepada Jules Laforgue, Arthur Rimbaud, dan Paul Verlaine. Tanpa Verlaine, Eliot menulis, ia mungkin tidak pernah mendengar tentang Tristan Corbière dan bukunya Les amours jaunes, suatu karya yang mempengaruhi jalan hidup Eliot's [11] Advokat Harvard menerbitkan beberapa puisi-puisinya, dan ia menjadi teman seumur hidup dengan Conrad. Aiken, novelis Amerika.
Setelah bekerja sebagai asisten filsafat di Harvard from 1909-1910, Eliot pindah ke Paris, dimana dari 1910-1911, ia belajar filsafat di Sorbonne. Dia menghadiri ceramah oleh Henri Bergson dan membaca puisi dengan Alain-Fournier. [5] [11] Dari 1911-1914, ia kembali di Harvard belajar filsafat India dan Sansekerta [5] [12]. Eliot diberikan beasiswa ke Merton College , Oxford pada 1914. Dia pertama kali mengunjungi Marburg, Jerman, dimana ia berencana untuk mengambil program musim panas, tetapi ketika Perang Dunia Pertama pecah, ia pergi ke Oxford sebagai gantinya. Pada waktu itu, siswa Amerika begitu banyak hadir Merton bahwa Junior Common Room mengusulkan gerakan "bahwa masyarakat ini membenci Amerikanisasi Oxford";. Itu dikalahkan oleh dua suara setelah Eliot mengingatkan para siswa betapa mereka berhutang budaya Amerika [13]
Eliot tidak menetap di Merton, dan meninggalkan setelah satu tahun. Dia menulis kepada Conrad Aiken pada malam Tahun Baru 1914: "Aku benci kota universitas dan orang-orang universitas, yang sama di mana-mana, dengan istri hamil, luas anak-anak, banyak buku dan gambar-gambar mengerikan di dinding ... Oxford sangat cantik, tapi Saya tidak suka mati. "[13] Pada 1916, ia telah menyelesaikan disertasi PhD untuk Harvard pada Pengetahuan dan Pengalaman di Filsafat FH Bradley, tentang FH Bradley, [14] tetapi ia gagal kembali untuk viva voce ujian. [5]


1.^ Hart Crane (1899-1932)
2.^ Kirk, Russell (1985). The conservative mind from Burke to Eliot (4 ed.). Washington DC: Regnery Publishing. p. 493. ISBN 0-89526-171-5.
3.^ Influences by Seamus Heaney, Bostonreview.net, accessed August 3, 2009.
4.^ Collini, Stefan. "I cannot go on", The Guardian, November 7, 2009.
5.^ a b c d e f g h i Thomas Stearns Eliot, Encyclopaedia Britannica, accessed November 7, 2009.
6.^ a b The Nobel Prize in Literature 1948 - T.S. Eliot Biography, Nobelprize.org
7.^ Hall, Donald. "The Art of Poetry No. 1", The Paris Review, Issue 21, Spring-Summer 1959, p. 25, accessed November 7, 2009
8.^ Ronald Bush, T.S. Eliot: the modernist in history, (New York, 1991), p. 72
9.^ Letter to Marquis Childs quoted in St. Louis Post Dispatch (15 October 1930) and in the address "American Literature and the American Language" delivered at Washington University (9 June 1953), published in Washington University Studies, New Series: Literature and Language, no. 23 (St. Louis: Washington University Press, 1953), p. 6.
10.^ Hall, Donald. The Art of Poetry No. 1, The Paris Review, Issue 21, Spring-Summer 1959, accessed November 7, 2009.
11.^ a b Kermode, Frank. "Introduction" to The Waste Land and Other Poems, Penguin Classics, 2003.
12.^ Perl, Jeffry M. and Andrew P. Tuck. "The Hidden Advantage of Tradition: On the Significance of T. S. Eliot's Indic Studies", Philosophy East & West V. 35 No. 2, April 1985, pp. 116–131.
13.^ a b Seymour-Jones, Carole. Painted Shadow: The Life of Vivienne Eliot, First Wife of T. S. Eliot, Knopf Publishing Group, p. 1.
14.^ For a reading of the dissertation, see Brazeal, Gregory (Fall 2007). "The Alleged Pragmatism of T.S. Eliot". Philosophy & Literature 31 (1): 248–264. Retrieved January 17, 2011