Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Thursday, April 14, 2011

Stress Pada Ibu Hamil Akibatkan Obesitas Anak

Intervensi pertumbuhan sel lemak selama kehamilan dan saat masih berusia anak-anak merupakan cara efisien untuk mencegah obesitas di kala dewasa.

VIVAnews
- Stress selama kehamilan dan menyusui bisa memicu perubahan genetik pada bayi yang dapat berakibat meningkatnya risiko obesitas pada bayi itu di kemudian hari.Menggunakan tikus, peneliti dari Department of Integrative Biology and Physiology, Medical School, University of Minnesota menemukan bahwa tikus hamil yang diberi beban stress memiliki anak-anak yang tumbuh lebih cepat dibanding tikus yang tidak diberi tekanan.Beberapa bulan kemudian, anak-anak tikus yang tumbuh lebih cepat itu memiliki lemak di sekitar perut dan kadar gula darah yang lebih tinggi.

Sebuah indikasi gejala diabetes. Kondisi ini ternyata disebabkan oleh dampak genetik dari hormon stress.“Pertumbuhan ini terjadi karena ada perubahan dalam neurotransmitter di otak yakni neuropeptide Y yang meningkatkan selera dan menghadirkan pembentukan dan pertumbuhan sel lemak,” kata Ruijun Han, ketua tim peneliti, seperti dikutip dari MedIndia, 14 April 2011.Han menyebutkan, semakin banyak sel lemak yang didapat sebelum masuk ke usia dewasa, semakin tinggi pula risiko terjadinya obesitas. “Untuk itu, intervensi pertumbuhan sel ini selama kehamilan dan saat masih berusia anak-anak merupakan cara efisien untuk mencegah obesitas di kala dewasa,” ucapnya.Menariknya, peneliti juga menemukan bahwa perubahan ini hanya terjadi pada anak-anak tikus betina. Dari uji coba, peneliti menarik kesimpulan bahwa anak-anak tikus betina lebih membutuhkan jaringan lemak untuk memproduksi keturunan.Saat ini, keterlibatan manusia sebagai objek penelitian akan dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut apakah stress menghasilkan efek yang sama pada manusia.

Tuesday, April 12, 2011

Asap Rokok Rusak Kesehatan Mental Anak

Asap Rokok Rusak Kesehatan Mental Anak

Anak-anak yang menghirup asap rokok secara pasif lebih cenderung berjuang dengan masalah kesehatan mental.

Dalam hasil studi besar-besaran terhadap anak-anak di Inggris itu mendesak para orangtua untuk menghentikan kebiasaan merokok. "Atau setidaknya menghembuskan asap rokok di luar rumah," kata peneliti.

Namun masih belum jelas apakah asap tembakau benar-benar berpengaruh langsung pada otak anak-anak, atau ada hal lain yang mempengaruhi.

"Kita tahu bahwa paparan asap rokok terkait dengan banyak masalah kesehatan fisik pada anak-anak, meskipun sisi kesehatan mental belum dieksplorasi," kata ketua peneliti Mark Hamer dari University College London kepada Reuters Health via e-mail.

Dua dari setiap tiga anak berusia antara 3-11 tahun terkena asap rokok di AS. Sementara itu pada kelompok anak berusia 9-17, satu dari lima orang telah didiagnosa memiliki beberapa jenis gangguan mental atau kecanduan. Data ini berasal dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Untuk melihat apakah dua statistik terkait, Hamer dan koleganya mempelajari 901 anak-anak tidak terkena paparan asap rokok yang berusia antara 4-8 tahun. Mereka mengukur tingkat efek sampingan dari asap rokok pada air liuar anak-anak untuk mengukur paparan asap, dan para orangtuanya mengisi kuesioner tentang emosi, masalah perilaku dan sosial anak-anak.

Semakin banyak paparan asap rokok pada anak, rata-rata memiliki kesehatan mental yang buruk. "Hal ini terutama anak-anak berlaku hiperaktif dan berperilaku buruk lainnya," lapor para peneliti dalam Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine.

Secara keseluruhan, sekitar 3% dari semua anak-anak 'abnormal' memiliki skor 20 atau lebih pada kuesioner 'Kekuatan dan Kesulitan', skala 40 poin dengan nilai tertinggi mewakili kesehatan mental buruk.

Terjadi kesenjangan tetap setelah peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seperti asma, aktivitas fisik, pendapatan keluarga, dan situasi rumah. Namun hal itu tidak bisa meniadakan peran beberapa faktor yang tidak terukur.

Anak-anak memang paling mungkin menghirup asap rokok di rumah mereka sendiri. Namun yang belum jelas adalah bagaimana asap rokok bisa memicu masalah mental.

Para peneliti memperkirakan bahwa hal ini bisa juga berhubungan dengan efek asap pada bahan kimia di otak, seperti dopamin. Faktor genetika juga bisa berpengaruh, atau pengetahuan bahwa asap berbahaya bisa membuat anak-anak depresi karena dipaksa banyak bernapas setiap hari.

Sementara Hamer mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan, Dr Michael Weitzman dari New York University Medical Center, yang tidak terlibat dalam penelitian. Michael mengatakan bahwa hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa asap rokok pasif menyebabkan masalah kesehatan mental pada anak-anak.

"Banyak orang sekarang menyadari bahwa paparan asap pada anak-anak meningkatkan risiko mereka untuk sindrom kematian bayi mendadak, infeksi telinga dan asma," kata Weitzman kepada Reuters Health via e-mail.

"Tapi asap rokok juga menimbulkan beban besar pada kualitas hidup anak-anak, keluarga dan masyarakat yang lebih besar, karena masalah peningkatan kesehatan mental anak," tambahnya.

Dia merekomendasikan pendidikan publik tentang konsekuensi merokok, serta lebih banyak upaya membantu orangtua berhenti merokok.

Hamer menyarankan agar orangtua sebaiknya mencoba menghindari kebiasaan merokok di rumah mereka ketika berada di sekitar anak-anak, karena hal itu berbahaya bagi mereka, baik secara fisik maupun mental.

http://www.ceriwis.info

Dampak Asap Rokok Picu Risiko Hiperaktif

Menghindarkan anak-anak dan ibu hamil dari paparan asap rokok di lingkungan merupakan hal penting dalam upaya mencegah anak dari ancaman penyakit.

Studi terbaru yang digagas Frank Bandiera dari University of Miami Miller School of Medicine menunjukkan, paparan asap rokok di lingkungan (second handsmoke) dapat meningkatkan risiko anak-anak mengalami depresi dan gangguan perilaku termasuk hiperaktif.

Penelitian ini memperkuat bukti bahwa anak-anak dari seorang ibu yang merokok semasa hamil berpotensi mengalami masalah gangguan perilaku. Paparan asap rokok juga berkaitan dengan gangguan kesehatan lainnya seperti penyakit pernapasan dan jantung pada anak-anak.

"Sudah saatnya untuk mencegah anak-anak terpapar asap," kata Dr. Bruce Lanphear, kepala Children's Environmental Health Center di Cincinnati, Amerika Serikat.

"Bukti sudah cukup untuk mencegah penyakit-penyakit yang disebutkan, sayangnya hal itu tidak kita lakukan," tambah Lanphear yang tidak terlibat dalam studi.

Bandiera dalam studinya melibatkan sekitar 3.000 anak berusia antara 8 hingga 15 tahun. Kadar kotinin - yang terbentuk setelah nikotin terurai - dalam tubuh anak-anak diukur. Anak-anak yang kadar kotininnya sangat tinggi dianggap sebagai perokok aktif, sehingga tidak dilibatkan dalam studi. Hasil penelitian ini dimuat dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine.

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor seperti usia dan ras, peneliti menemukan bahwa anak laki-laki yang terpapar asap rokok memiliki kecenderungan menunjukkan gejala hiperaktif, depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku lainnya. Sedangkan anak perempuan yang terpapar asap rokok hanya menunjukkan gejala hiperaktif dan kecemasan.

Walau begitu, jumlah anak yang didiagnosa positif mengalami kelainan tersebut rendah. Hanya ditemukan 201 anak atau sekitar 7 persen anak yang dinggap layak didiagnosa positif ADHD, 15 anak lainnya positif mengidap depresi dan 9 anak mengalami gangguan kecemasan

Para peneliti mengakui, memang sulit untuk memisahkan dampak paparan asap rokok dari kondisi atau kelainan yang disebabkan oleh ibu hamil yang merokok saat masa kehamilan.

Dalam komentar yang dilampirkan dalam riset ini, Dr. Jonathan Samet dari Keck School of Medicine of the University of Southern California menyatakan pentingnya dilakukan studi lebih jauh untuk menentukan bagaimana sebenarnya paparan asap rokok dapat memengaruhi otak bayi.

Bandiera juga mencatat bahwa studi ini tidak dapat membuntikan bahwa paparan asap menyebaban gangguan mental dan perilaku . Tetapi untuk saat ini, para orang tua sebaiknya menjauhkan anak-anak mereka dari paparan asap rokok.

Lanphear menegaskan, meski saat ini belum ada bukti definitif yang mengaitkan paparan asap rokok di udara (secondhand smoke) dengan gangguan mental, akan sangat mengejutkan bila tidak ditemukan hubungan di antara keduanya.

Tuesday, March 8, 2011

Agar Anak Mudah Berkonsentrasi



VIVAnews - Berkonsentrasi bagi sebagian anak adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Terutama ketika mereka berada di rumah dan harus menyelesaikan tugas serta pekerjaan rumah.

Suara televisi atau bunyi ponsel bisa dengan mudah merusak konsentrasi. Sebagai orangtua, sebaiknya jangan langsung memarahi jika anak mengalami kesulitan dalam hal konsentrasi. Coba bantu buah hati dengan lima cara berikut, seperti dilansir dari au.lifestyle.yahoo.com.

1. Batasi penggunaan teknologi

Ponsel, televisi, internet adalah teknologi yang sangat mudah memecah konsentrasi anak. Sebaiknya batasi akses mereka dengan teknologi ketika datang waktu belajar atau saat mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini sangat efektif untuk membantu buah hati tetap berkonsentrasi untuk belajar dan menyelesaikan tugasnya.

2. Buat suasana nyaman

Meja berantakan atau lampu kurang terang bisa membuat anak menjadi tidak nyaman dan sulit fokus. Untuk itu ajarkan buah hati untuk membenahi meja belajarnya, sebelum belajar atau mengerjakan tugas.

3. Ciptakan ketenangan

Sulit untuk anak-anak fokus jika suasana rumah sangat berisik. Jadi saat mereka belajar, sebaiknya Anda juga menciptakan suasana tenang dalam rumah. Pelankan suara saat berbicara, kalau perlu kondisikan ponsel dalam silent mode.

4. Atur jadwal

Anak-anak, seperti orang dewasa, tidak akan mampu untuk tetap fokus selama berjam-jam. Bantu mereka dengan membuatkannya jadwal sehingga mereka bisa fokus selama 40-50 menit dan kemudian istirahat. Ketika mereka beristirahat, cobalah ajak berbicara hangat sambil menikmati camilan sehat. Cara ini sangat efektif untuk membuat mereka kembali fokus setelah beristirahat.

5. Ajarkan untuk membuat target yang realistis

Sangat penting mengajarkan anak menentukan target. Mintalah mereka membuat target yang realistis. Target yang terlalu tinggi malah bisa membuat mereka sulit fokus. Menuntut kesempurnaan hanya akan jadi beban bagi anak-anak. Sebaiknya, bantu buah hati untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. (pet)